Untuk Indonesia Yang Kuat….

Saya mendengar nama Ligwina Hananto pertama kali dari seorang teman yang lebih dulu membaca artikel-artikelnya. Dia adalah seorang perencana keuangan independen yang sangat terkenal belakangan ini.  Selain mendirikan QM Financial, menulis buku, dia juga kerap menjadi narasumber mengenai Financial Planning di berbagai media cetak dan elektronik. Dia juga aktif berkicau tentang finance lewat akun tweetnya @mrshananto. Setelah itu, saya mulai searching profil tweetnya dan menjadi followernya. Lewat akun itulah saya mendapatkan informasi mengenai buku ini. Kebetulan, sebagai ibu rumah tangga yang masih terbilang baru, saya tengah mencari bahan belajar untuk mulai membuat perencanaan finansial keluarga. Pas sekali dengan buku ini.

Untuk Indonesia Yang Kuat, 100 Langkah Untuk Tidak Miskin. Judul yang membius, membuat saya penasaran untuk segera membeli dan membacanya. Ligwina menulis buku ini sebagai salah satu media untuk mewujudkan misinya, mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Menurut Mbak Wina, demikian beliau sering disapa, untuk membangun Indonesia yang kuat kita harus menciptakan golongan menengah yang kuat pula.

Siapakah golongan menengah itu?

Golongan menengah adalah orang-orang seperti kita, yang punya penghasilan, bisa makan cukup, bahkan sekali-sekali makan di restoran. Punya gaya hidup yang nyaman, bisa membeli kebutuhan tersier dan sesekali liburan, walaupun kadang-kadang harus dengan jalan menabung.

Kenapa harus golongan menengah?

Karena golongan menengah adalah golongan yang berdaya. Golongan menengah adalah senjata demokrasi, penggerak roda ekonomi dan pelaku konsumsi terbesar di sebuah negara. Orang-orang golongan atas sebagai pelaku usaha dengan aset-aset besar dan  penghasilan miliaran bahkan triliunan sudah tidak perlu lagi diperkuat. Mereka sudah punya harta yang mungkin cukup untuk tujuh turunan. Sedangkan orang golongan bawah, yang untuk bisa makan sehari saja susah payah, boro-boro mau memikirkan perencanaan keuangan. Yang ada di pikiran mereka setiap hari adalah bagaimana keluarga bisa makan hari ini. Mereka  masih butuh pertolongan kita, dan hal itu tentu saja dapat kita lakukan jika kita adalah golongan menengah yang kuat.

Bagaimana membentuk golongan menengah yang kuat?

Untuk menjadi golongan menengah yang kuat, kita perlu membuat suatu perencanaan finansial. Berapa banyak orang di sekitar kita yang punya gaji 3 juta bahkan sampai 30 juta per bulannya, tapi belum mampu membiayai hidupnya sendiri, membayar tagihan sendiri, rumah masih menumpang pada orang tua, dan tidak sanggup menyisihkan uang walaupun sedikit untuk menabung. Itu karena tidak adanya perencanaan keuangan yang tepat. Masalahnya bukan pada seberapa besar penghasilan, namun seberapa mampu anda menyesuaikan gaya hidup dengan penghasilan.  Dengan perencanaan finansial ini, kita bisa mencapai kemandirian finansial.

Untuk membuat suatu perencanaan finansial, pertama-tama kita harus menentukan tujuan finansial yang ingin dicapai. Misalnya, dana pensiun, dana pendidikan anak, dana kesehatan, atau dana darurat. Dana pensiun penting, mengingat kita tidak akan selamanya bisa bekerja. Jika telah melewati masa produktif, tentu kita sudah ingin istirahat dan hidup dengan tenang. Kalaupun ada uang pensiun, jumlahnya tidak akan sama dan belum tentu mampu menutupi pengeluaran untuk gaya hidup yang sama seperti sekarang ini. Dana pendidikan, yang setiap tahun  terus melesat naik, juga perlu disiapkan sejak dini. Begitu pula dengan dana kesehatan. Kita tidak pernah tahu kalau suatu saat kita atau keluarga jatuh sakit dan membutuhkan biaya yang besar. Sedangkan dana darurat berguna jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya pemberi nafkah utama meninggal atau kehilangan pekerjaan, terjadi musibah bencana alam, dan lain-lain.

Demi mewujudkan semua tujuan finansial tersebut, menabung saja tidak cukup. Kita akan senantiasa berhadapan dengan musuh bersama yang bernama inflasi. Diperkirakan bahwa tingkat inflasi di Indonesia adalah sekitar 10% per tahunnya. Dengan demikian jika kita memiliki tabungan  sebesar Rp. 50 juta 10 tahun ke depan, nilainya  bisa jadi sama dengan Rp. 5 juta sekarang. Mau tidak mau, kita harus berinvestasi dengan cara lain, misalnya dengan membeli logam mulia, bertransaksi di pasar saham, reksa dana, dan lain-lain. Agar efektif, investasi tersebut harus diklasifikasikan menjadi tiga jenis investasi, yaitu :

1. Investasi jangka pendek, investasi dengan tujuan < 5 tahun

2. Investasi menengah dengan tujuan > 5 tahun dan < 10 tahun

3. investasi jangka panjang dengan tujuan > 10 tahun

Sebelum berinvestasi, pelajari dengan cermat setiap produk investasi yang akan kita beli. Setiap investasi pastilah beresiko. Namun resiko kebanyakan muncul karena ketidaktahuan kita, jadi jawabannya adalah belajar! Kita juga bisa belajar manajemen resiko. Salah satu caranya dengan tidak membelanjakan semua dana anda untuk suatu investasi. Misalnya, hanya menginvestasikan 10% dari dana investasi untuk reksadana, berarti anda masih punya 90% dana anda, jika terjadi sesuatu yg tidak diinginkan. Untuk investasi jangka pendek, sebaiknya pilih produk investasi dengan resiko yang lebih rendah, dan sebaliknya. Prinsipnya, semakin panjang jangka waktu, semakin besar toleransi kita terhadap resiko.  Lebih baik menghadapi resiko investasi yang belum tentu terjadi dibandingkan beresiko tujuan finansial anda pasti tidak tercapai bukan?

Bagaimana jika kita tidak bisa menyisihkan penghasilan untuk investasi?

Banyak orang yang selalu mengeluhkan penghasilannya yang tidak pernah cukup. Beberapa orang mengatakan bahwa dia kesulitan menyisihkan uang untuk menabung dan berinvestasi.  Banyak juga yang menabung di awal bulan, tapi akhirnya harus menarik tabungan itu lagi untuk menutupi kebutuhan hidup di akhir bulan. Tapi kenyataannya, setiap bulan mereka membayar tagihan kartu kredit yang mencapai limit, makan di restoran mahal, hobi nongkrong dan ngopi di cafe . Sebagian bahkan mengoleksi produk fashion dan gadget yang tidak begitu diperlukan, dll. Jadi persoalannya bukan pada besar penghasilan, tapi komitmen mengubah kebiasaan dan gaya hidup untuk berinvestasi. Ubah pola kita yang terbiasa menabung dari sisa penghasilan setelah dikurangi pengeluaran di akhir bulan, menjadi menyisihkan investasi dari penghasilan di awal bulan dan sisanya adalah pengeluaran.

penghasilan-pengeluaran = tabungan ———> penghasilan-investasi = pengeluaran

Selain itu, sebaiknya kita memisahkan rekening untuk pengeluaran dengan rekening tabungan. Hal ini perlu, untuk menjaga komitmen kita dalam berinvestasi.

Kebebasan Finansial

Ada dua tahapan dalam rencana keuangan. Tahap dasar adalah rencana keuangan mendasar untuk mencapai berbagai tujuan finansial kita, mencapai kemandirian secara finansial. Tahap berikutnya adalah rencana keuangan lanjut dalam rangka mencapai kebebasan finansial. Pada tahap ini kita perlu mengimbangi rencana keuangan dengan pencapaian aset aktif. Seseorang dikatakan telah mencapai kebebasan finansial jika penghasilan pasifnya lebih besar dari pengeluaran bulanannya. Penghasilan pasif(passive income) ini adalah penghasilan yang berasal dari aset aktif. Aset aktif mencakup tiga hal berikut : bisnis. properti, dan surat berharga.

When we are stronger, we can be stronger for others

Yang perlu kita sadari adalah bahwa dengan memiliki kemandirian dan kebebasan finansial, kita bisa menjadi kuat. Bukan hanya kuat untuk diri sendiri, tapi kuat untuk keluarga, dan orang-orang di sekeliling kita. Bahkan untuk negara. Kita bisa melakukan banyak hal untuk membantu orang lain, dan turut mengentaskan kemiskinan di negara ini. Itulah tujuan hakikinya.

Sebagai penutup, di akhir buku ini ada check list 100 langkah untuk tidak miskin yang diberikan oleh penulis sebagai panduan untuk pelaksanaan perencanaan keuangan kita. Mungkin tidak semuanya cocok bagi kita, tapi polanya bisa kita jadikan acuan untuk menyusun perencanaan keuangan sendiri.

 Positif vs Negatif

Dari halaman pertama buku ini, saya dapat merasakan letupan semangat penulis dalam menyampaikan niat baiknya, memperkuat perekonomian golongan menengah dalam rangka mengentaskan kemiskinan. Dengan bahasa yang cukup mudah dicerna, bahkan oleh pembaca yang tidak punya latar belakang pendidikan finansial seperti saya. Disertai dengan data yang cukup detail dan sejumlah perhitungan yang dipaparkan secara lengkap, dapat memberi kita gambaran yang cukup jelas mengenai apa yang dibahasnya. Ilustrasi dan pemilihan quotenya juga mendukung isi bukunya. Jumlah halaman yang tidak begitu tebal dan ukuran huruf yang pas tidak membuat kita lelah membacanya. Hanya saja, pembahasan mengenai investasi sepertinya dititikberatkan pada satu jenis produk investasi saja, dalam hal ini reksadana. Kata seorang teman, kesannya terlalu kapitalis. Bagaimana berinvestasi dengan berbisnis justru kurang  dibahas dalam buku ini, padahal berbisnis di sektor riil  justru lebih bisa memberdayakan orang lain dan menggerakkan pasar perekonomian. Juga dari sisi agama lebih jelas dibanding reksadana dan saham yang statusnya masih abu-abu bagi sebagian orang karena tidak kelihatan fisiknya.

Terlepas dari semua kekurangannya, saya belajar banyak dari buku ini. Kalau sebelumnya saya hanya sekedar mengatur pengeluaran dan menyisihkan untuk ditabung setiap bulan, sekarang saya mulai punya konsep tentang investasi di kepala saya. Setelah membaca buku ini pun, saya jadi lebih banyak membaca artikel-artikel tentang investasi dan mulai berhemat. Rejeki sudah pasti ada di tangan Tuhan, tapi dengan perencanaan yang lebih baik berarti kita berikhtiar  untuk memanfaatkan rejeki yang diberikan olehNya dengan sebaik-baiknya. Dan lebih lagi, kita bisa  membantu lebih banyak orang yang membutuhkan.

Mungkin segini saja yang bisa saya bagi mengenai buku ini. Sebenarnya masih banyak sekali pembahasan dalam buku ini yang mungkin luput dari review saya. Untuk lebih jelasnya, silakan membaca bukunya langsung, dijamin bermanfaat dan tidak ada ruginya sama sekali. Selamat membaca 😀