Those fears, those hopes…

Masa-masa setelah menikah itu rasanya mirip-mirip dengan masa pasca Wisuda. Setelah menyelesaikan kuliah, terjun ke dunia yang sesungguhnya. Tiga bulan pertama, masih santai menikmati  hari-hari yang terasa seperti liburan. Bisa bersenang-senang, tidak ada beban, rasanya bebas dan bahagia. Mau ke mana saja, melakukan apa saja, tidak ada lagi kuliah dan tugas-tugas yang menghalangi.

Tapi pelan-pelan kebahagiaan itu mulai hilang ketika keadaan tidak berubah beberapa bulan berikutnya.

Enam bulan menganggur, belum dapat pekerjaan, belum punya penghasilan, dan masih bergantung pada orang tua, orang-orang sudah mulai memandang sebelah mata. Mulai enggan bertemu banyak orang, karena bosan dengan pertanyaan yang sama, “Sudah kerja? di mana?”.  Apalagi jika ternyata kebanyakan teman-teman sudah mulai bekerja, sedangkan kita tidak. Mulai stres, bertanya-tanya apa yang salah pada diri. Mengapa teman yang biasa-biasa saja justru lebih dulu bekerja? Sedangkan kita yang lulus dengan nilai lumayan bagus malah ditolak di mana-mana. Mengapa Tuhan belum menjawab doa kita, padahal kita telah berdoa siang-malam sambil terus berusaha semaksimal mungkin. Semakin hari, semakin rendah diri, merasa tidak beruntung, malu dan akhirnya menarik diri dari keramaian. Hanya iman di dada dan secuil keyakinan yang membuat kita kembali percaya bahwa suatu saat jawaban dari doa itu akan datang. Bahwa Tuhan pasti akan memberi jawaban, cepat atau lambat. Itulah yang saya rasakan dua tahun lalu. Ketika hampir setahun jobless pasca kuliah.

Lalu setelah menikah, perasaan harap-harap cemas itu  datang mengusik lagi.

Tiga bulan pertama setelah menikah adalah saat-saat yang paling bahagia. Tidak pernah merasa sebahagia itu sebelumnya. Semuanya indah, dunia cuma milik berdua. Di mana-mana cuma ada dia, dia, dan dia, si pujaan hati dan senyumannya. Terlebih bagi penganut “Pacaran Setelah Nikah” seperti saya dan suami. Karena belum pernah pacaran sebelumnya, jadi kami menikmati masa setelah pernikahan sebagai masa pacaran. Melakukan hal-hal menyenangkan berdua, hanya berdua.

Lalu orang di sekitar kami mulai melontarkan pertanyaan ini, “Bagaimana? Sudah isi?”. Awalnya dijawab dengan santai saja. Baru nikah ini. Kami juga masih sama-sama muda, tidak begitu ngebet, tapi kalau dikasih ya Alhamdulillah banget. Tapi kalau belum, ya tidak apa-apa juga…dinikmati saja masa-masa berdua dengan suami. Apalagi kami terpisah oleh jarak, setiap kebersamaan yang terbilang jarang, kami manfaatan sebaik-baiknya berdua.

Tapi lama kelamaan pertanyaan itu jadi terasa sedikit annoying. Kalau orangnya memang tulus bertanya karena lama tidak bertemu ya tidak apa-apa. Nah, yang menyebalkan adalah orang yang sudah berkali-kali ketemu dan masih saja mencecar dengan pertanyaan yang sama. Apalagi kalau nanyanya dengan pandangan yang tidak jelas, antara iba dan merendahkan. Apalagi kalau pake acara dibanding-bandingkan dengan pasangan lain yang waktu nikahnya hampir bersamaan. Membuat kita merasa seperti pesakitan yang punya kelainan. Bukannya tidak suka ditanyai, toh pertanyaan itu sejatinya adalah bentuk perhatian. Tapi tolonglah, jangan pake embel-embel yang membuat orang yang ditanya jadi merasa terbebani. Apalagi disertai dengan mimik muka yang secara tidak langsung seperti menyatakan kita ini ‘kurang subur’, ‘kurang cerdas’, atau apalah. Semua itu bikin kita malah stres dan merasa minder..

Dan saya yakin, ini bukan cuma pengalaman saya sendiri. Banyak perempuan yang mulai stres ketika memasuki semester kedua setelah pernikahan dan dia belum hamil. Semestinya, perhatian ini diberikan bukan dalam bentuk cecaran pertanyaan, tapi dukungan dan doa. Atau anjuran, tapi tidak terkesan menggurui. Karena orang yang sedang harap-harap cemas seperti ini sangat sensitif dan gampang tersinggung. Pertanyaan-pertanyaan malah akan menjadi beban dan tekanan. Toh gak perlu ditanya, kalo sudah hamil, pasti akan buncit juga.

Setiap pasangan, pasti ingin dikaruniai keturunan. Walaupun ada sebagian orang yang memilih untuk menunda. Tapi sejatinya mereka tetap mendambakan anak. Apalagi bagi seorang wanita yang baru merasa sempurna ketika menjadi seorang ibu. Tapi anak itu kan rejeki yang menjadi otoritas Tuhan. Meskipun kita berusaha sekeras apapun, berdoa serajin apapun, jika Tuhan menilai kita belum layak untuk itu, kita tidak bisa melakukan apa-apa selain terus berusaha memantaskan diri untuk menerima rejeki itu bukan?

Saya sendiri selalu yakin, selalu ada saat yang tepat untuk segala sesuatu. Dan Tuhan selalu paling tahu kapan waktu yang tepat itu. Manusia hanya bisa berencana, berdoa, dan terus berusaha. Yang penting adalah, tidak berputus asa akan rahmatNya. Allah mencintai kita, selalu. Meski cinta itu tidak selamanya ditunjukkan dengan memberikan segala yang kita inginkan. He knows us better than we know ourself. Maka tetap bersabar dan senantiasa bersyukur padaNya, niscaya akan dilimpahkan nikmatNya berkali-kali lipat. Amin

*Picture from here