#NHW3-Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Lagi-lagi mengerjakan tugas NHW mendekati deadline. Masih saja memelihara kebiasaan buruk spesialis deadliner. Makin ke sini rasanya tugasnya makin butuh perenungan mendalam. Saking kerasnya merenung sampai sering tertidur memikirkan tugas, tapi belum mengerjakan apa-apa, hehehe.

Tadi pagi sudah kirim surat cinta ke Pak Suami via email. Berhubung saya masih nginap di rumah orang tua di kampung dan beliau di Makassar. Pas ditanya via LINE, reaksinya cuma bilang I love you too, terus ujung-ujungnya bercanda.Gemesin (>_<)

Begitulah suami saya, lelaki yang berhasil membuat saya jatuh cinta enam tahun lalu dan setiap hari dalam hidup saya hingga detik ini. Sederhana dalam kata tapi selalu menunjukkan perhatiannya yang besar dalam perbuatan. Dari hal-hal kecil seperti ngecharge ponsel saya yang sering saya gunakan sampai tertidur dalam keadaan lowbatt, sampai membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga tanpa diminta. Dia yang selalu sabar menghadapi saya yang keras kepala dan kadang temperamen. Dia tidak pernah komplain tentang apapun, kecuali kalau saya memaksa untuk dia jujur mengutarakan pendapatnya. Mendapatkan partner hidup seperti dirinya adalah hal yang paling saya syukuri dalam hidup saya.

Alhamdulillah, saat ini kami sudah dikaruniai dua buah hati :

Aliyah Fatihaturrahmah (3y)

Secara garis besar, anak ini punya banyak kemiripan dengan saya. Terutama soal watak yang keras dan pendiriannya yang teguh. Dia juga agak pemalu dan sedikit introvert. Dia merasa nyaman hanya ketika berada  di lingkungan yang dia kenal, sulit menerima keberadaan orang baru. Namun di sisi lain, perasaannya sangat halus dan peka. Dia tidak bisa melihat orang yang dia sayangi bersedih. Merasa selalu ingin terlibat dalam segala hal, daya ingat yang tajam, dan cerdas dalam bahasa. Itulah beberapa kelebihannya. Dia akan sangat senang jika diijinkan membantu di dapur. Dan di usianya yang tiga tahun, alhamdulillah dia sudah bisa melafalkan doa-doa dan beberapa surah pendek, meski masih belum fasih. Kami berharap, kelak dia bisa tumbuh menjadi anak sholehah, perempuan yang tinggi derajatnya, pembuka pintu rahmat, seperti namanya.

Adzkia Fakhirah(16m)

Adzkia berarti cerdas, Fakhirah adalah kebanggaan. Kami menamainya demikian dan berharap dia tumbuh jadi perempuan cerdas yang menjadi kebanggaan kami. Sangat berbeda dari kakaknya yang sedikit introvert. Anak ini sama sekali tidak bisa diam. Sejak bayi, perkembangan kemampuan motorik kasarnya memang yang paling menonjol. Dia sudah bisa tengkurap sejak usia 3 bulan, dan bisa berjalan sebelum usianya genap setahun. Dia adalah peniru ulung, dia sudah bisa menduplikasi apa yang dia lihat, hanya dengan sekali melihat. Dia sangat senang mengeksplorasi sekitarnya.  Dia senang bergaul, tidak takut siapapun, meski orang yang baru baginya. Dia bisa menciptakan kebahagiaan bagi orang lain hanya dengan tingkahnya yang lucu. Sejauh ini dia sudah mulai memperlihatkan kemajuan dalam kemampuan bahasanya, meski masih sepatah dua patah kata. Namun dia sudah bisa menyampaikan maksudnya ke orang lain.

Alhamdulillah, kedua anak yang cerdas ini membuat saya dan suami selalu merasa tidak pernah cukup ilmu dan harus terus belajar. Karena semakin mereka tumbuh besar, semakin banyak tantangan bagi kami dalam mendidik mereka.

Lingkungan tempat tinggal

Sampai saat ini kami masih tinggal menumpang di rumah orang tua bersama seorang kakak saya. Sebenarnya kami sudah memiliki rumah sendiri, namun karena jarak yang cukup jauh dari kantor suami, hingga untuk sementara kami memutuskan tinggal di rumah ini. Sekalian membantu orang tua merawat rumah yang tidak mereka tinggali di Makassar.

Perumahan tempat kami tinggal adalah lingkungan pemukiman yang cukup padat. Lorong yang sempit dan rumah yang berdempetan, tidak jarang menimbulkan permasalahan. Misalnya tetangga yang parkir sembarangan, tamu-tamu tetangga yang kadang ribut pada waktu istirahat, dan lain-lain. Di sinilah kadang kesabaran kami diuji.  Salah satu tantangan bagi kami adalah perbedaan pola mendidik anak dengan tetangga, membuat kami berpikir bagaimana agar anak bisa tetap bergaul dengan sebayanya, tapi tetap bisa menanamkan nilai-nilai dan adab Islami tanpa harus terwarnai oleh pergaulan di sekitar rumah.

Tantangan lain bagi saya adalah akses untuk keluar-masuk rumah yang cukup jauh dari rute angkutan umum. Mengingat saya belum bisa membawa kendaraan apapun, jadi saya harus rela berdiam di rumah, kecuali jika diantarkan oleh suami. Hal ini awalnya saya rasakan sangat membatasi gerak dan keinginan saya untuk belajar dan berkarya di luar rumah. Karena dalam kondisi seperti ini, masih agak repot jika saya harus membawa dua anak yang masih kecil-kecil keluar rumah sendirian. Akhirnya saya belajar berdamai dengan kondisi dengan mencari komunitas belajar online di mana saya bisa menambah pengetahuan tanpa harus meninggalkan anak-anak. Saya juga memulai usaha online berjualan busana muslim anak. Bukan sekedar mengejar untung, tapi ini juga adalah media dakwah bagi saya. Membantu para orang tua untuk membiasakan anak berhijab sejak dini. Senang sekali rasanya melihat anak-anak terbiasa menutup aurat di usia mereka yang masih belia. Apalagi jika kelak mereka menjadi anak sholehah. Mungkin memang peran saya tidak seberapa, tapi setidaknya saya bisa melakukan sesuatu dalam segala keterbatasan.

Saat ini saya juga mencoba untuk belajar menulis lagi, agar bisa menyampaikan ilmu yang saya punya ke orang lain. Seperti kata pepatah, Ikatlah ilmu dengan menulis. Menulis adalah salah satu jalan untuk tetap hidup meski raga kita telah mati. Dan Ilmu yang bermanfaat adalah salah satu dari tiga amal yang tak terputus pahalanya. Semoga kelak bisa melahirkan tulisan-tulisan yang bermanfaat dan membangun peradaban dari ruah dan keluarga saya. Amin