NHW#1 : Adab Menuntut Ilmu

*Tulisan ini sejatinya adalah tugas pertama di kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional. Berhubung blog ini nganggur, jadi saya posting di sini saja, hitung-hitung menambah postingan baru di blog ini*

Bismillahirrahmanirrahim…

Sejak sukses merumahkan diri (baca : resign ) dua tahun lalu. Saya jadi punya lebih banyak kesempatan untuk belajar banyak hal. Saya lebih banyak mengeksplor kemampuan dalam diri saya yang dulu hampir tidak bisa saya lakukan ketika masih bekerja kantoran. Di antaranya adalah belajar merajut, memasak, baking, dan memulai bisnis online. Saya juga ingin sekali ikut kursus menjahit, mengemudi mobil, dan bahasa asing, namun yang ini belum kesampaian. Berhubung anak-anak masih belum bisa ditinggal, jadi untuk sementara saya cuma bisa mempelajari sesuatu yang bisa dilakukan secara otodidak dari rumah. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin saya pelajari. Tapi selain semua keterampilan tersebut, kalau ditanya ilmu apa yang paling ingin saya dalami, jawaban saya cuma satu, ilmu parenting.

Kenapa ilmu parenting?

Karena menjadi orangtua di akhir zaman seperti sekarang ini bukan hal yang mudah. Ada banyak tantangan dan ancaman yang mengintai anak-anak kita. Dan saya menyadari penuh peran saya sebagai seorang ibu, madrasah pertama dan utama bagi anak-anak saya. Saya merasa belum cukup ilmu untuk membekali anak-anak saya.  Padahal anak adalah amanah dari Allah yang kelak akan kita pertanggungjawabkan di akhirat. Anak juga adalah aset orang tua, tidak hanya di dunia, namun juga kelak di akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah :

“Apabila seorang telah meninggal dunia, maka seluruh amalnya terputus kecuali tiga, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendo’akannya.” –[HR. Muslim: 1631]

Saya sangat berharap kelak mereka bisa tumbuh menjadi anak sholeh dan sholehah yang senantiasa mendoakan orangtuanya. Karena itu, saya ingin memperbanyak bekal dan memperdalam ilmu dalam mendidik dan membesarkan mereka.

Berbagai ikhtiar yang saya lakukan untuk menambah pengetahuan saya, di antaranya mengikuti komunitas ibu-ibu  yang sejalan dengan visi saya, membeli dan membaca buku-buku parenting, memanfaatkan teknologi internet untuk menambah wawasan dalam pendidikan anak, mengikuti seminar-seminar parenting Islami, tak lupa belajar dari orang -orang di sekitar yang bisa dijadikan teladan dalam mendidik anak.

Setelah mendapatkan materi pertama di kelas Matrikulasi IIP ini, saya jadi teringat perkataan Imam Syafi’i yang pernah saya dapatkan di kelas Mahfuzat di ma’had dulu…

“Aku telah mengadu  kepada Imam Waqi’ tentang buruknya hapalanku,

maka dia membimbingku untuk meninggalkan maksiat

Dan dia mengabarkan bahwa Ilmu itu adalah cahaya

Sedangkan cahaya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang berbuat maksiat

Iya, saya masih hapal dengan baris-baris ungkapan ini di luar kepala. Tapi lebih sering lupa untuk mengaplikasikannya. Mungkin salah satu faktor utama kesulitan saya untuk menimba ilmu adalah terlalu banyak dosa. Maka hal yang paling pertama dan utama yang ingin saya lakukan adalah memantapkan niat dan memperbaiki diri. Terutama hubungan saya dengan Sang Khalik. Kemudian memperbaiki kebiasaan belajar saya sejak sekolah yang selalu menunda-nunda sampai mendekati deadline, The Power of Kepepet.  Menghargai sumber ilmu dan orang yang menyampaikannya juga poin penting bagi saya. Dan terakhir adalah tabayyun. Akses informasi yang sangat mudah belakangan ini kadang membuat kita menelan mentah-mentah apa yang kita baca tanpa menelusuri sumbernya. Tidak jarang kita menerima broadcast yang walaupun esensinya baik, namun sumbernya tidak jelas. Karena itu, saya belajar memfilter informasi sebelum menyerapnya, terlebih membagikannya kepada orang lain.

Mungkin demikian jawaban dari saya untuk Nice Home Work kali ini. Mohon maaf jika terlalu panjang dan mengandung curhat. Semoga tidak hanya sekedar tulisan, namun bisa saya aplikasikan sesuai harapan. Amin