Metamorfosis…

Di suatu pagi saya terbangun, sudah jam 6 ternyata…saya ada tes jam 8.  Walaupun waktunya nggak banyak, saya masih sempat menghabiskan waktu cukup lama di kamar mandi,  kemudian melakukan ritual seperti make lotion, pelembab wajah, sedikit bedak dan lip gloss. Setelah itu segera menyambar rok dan blus yang akan saya pake. Dan terakhir jilbab… ini bagian yang paling lama. Mulai dari masang jilbabnya, blum lagi jilbabnya mau dimodel apa, pake bros yang mana yang matching ama baju, sampai menghabiskan waktu 15 menit hanya untuk bagian kepala. Dan terakhir jam tangan dan tas. Setelah semuanya selesai saya mengecek di cermin…hmmm,oke.

Saya amati kembali bayangan di cermin itu, sekilas terlintas pertanyaan, sejak kapan bayangan saya di cermin jadi serapih itu? Beberapa tahun lalu sama sekali tak pernah terpikir akan mengenakan semua atribut ini.

*******

Menghabiskan masa kecil di antara 4 orang kakak laki-laki membuat saya jadi gadis kecil yang tomboy. Kalau ga dipaksa ma mama, saya ga bakalan mau pake rok kecuali rok sekolah. Mainnya mainan cowok apalagi kebanyakan teman sebaya di lingkungan kami juga anak-anak cowok. Sejak kecil sampai sekarang tidak pernah suka ma yang namanya boneka. Dan tidak hanya itu, sikap cuek dan selengean kakak menular kuat pada diri saya. Kalo berpakaian yang penting nyaman, ga peduli soal model ma matching atau nggaknya. Lebih suka pake kemeja atau kaos cowok yang gombrong daripada blus-blus cewek. Warna pakaian pun kebanyakan warna gelap. Paling malas kalau dipaksa ke pesta dan harus make perhiasan segala macam, paling cuma bertahan beberapa jam. Kalo mama gak liat langsung dilepas[heheh]. Lebih suka pake sendal jepit ama sepatu kets.  Begitu juga dengan selera musik, dari kecil saya sudah terbiasa mendengarkan lagu-lagu keras yang selalu diputar kakak dengan volume kencang.

Enam tahun bersekolah di lingkungan asrama yang penghuninya cewek semua tidak merubah banyak hal. Palingan cuma soal pake rok, soalnya kita diwajibkan pake rok. Haram hukumnya pake celana di luar kamar tidur. Tapi yang lain-lain tetap gak ada yang berubah, malah makin menjadi-jadi. Kebetulan  sahabat-sahabat saya waktu itu semua satu spesies. Mereka hobinya main basket tiap pagi dan sore, walaupun diriku  selalu jadi penonton saja. Kalo ngobrol, biasanya ngomongin pemain bola yang cakep, musik, atau seputar sekolah dan asrama. Dari merekalah saya mulai mengenal yang namanya Linkin Park, Simple Plan, Muse, Greenday, Hoobastank, Blink 182, Evanescence, Avril Lavigne dan nama-nama lain yang sealiran.

Awal-awal menjadi mahasiswa juga masih sama. Apalagi di Teknik banyakan cowok. Kuliah dan segudang kegiatan waktu itu membuat kami lebih merasa nyaman memakai sepatu kets dan backpack. Di samping itu, sebagai mahasiswa baru  harus jaim dan ga boleh banyak gaya, ntar digap ma senior, hikhikhik. Sampai beberapa semester kami masih mahasiswi-mahasiswi culun yang cuek ama yang namanya penampilan. Tugas yang bertumpuk, laporan praktikum dan jadwal asistensi, ditambah sederet kepanitiaan di berbagai kegiatan, mana sempat mikirin penampilan?Kalo semua cewek dari setiap fakultas ngumpul, akan sangat ketahuanlah yang mana cewek Teknik, yang paling manis gitu…hehehe.

Lalu entah kapan dan bagaimana awalnya perubahan itu terjadi pelan-pelan. Tak tahu siapa yang memulai, namun kami semua seperti  ikut saja  dalam arus perubahan itu. Sepatu kets yang biasa kami pakai berganti dengan sepatu cewek, walaupun masih yang flat(ga mungkin juga kali pake highheels ke kampus, itu mah keganjenan…bisa jadi pusat perhatian se-Teknik)Tas yang tadinya backpack berganti menjadi tas cewek. Yang tadinya lebih suka pake pin, sekarang jadi bros dengan permata-permata. Jilbab yang ujungnya biasanya dibiarkan saja, sekarang ditata dengan berbagai macam model. Kemeja yang tadinya simpel dan biasa aja, sekarang ada aksen lipit-lipit ma pita-pitanya. Udah mulai belajar dandan juga. Selera musik pun menjadi lebih kalem, lebih  ke slow rock, pop, dan jazz. Bahan omongan juga udah mulai keibu-ibuan, mulai dari gosip, masa depan, dan soal belanja-belanji. Pokoknya sekarang ini bisa dibilang cewek banget deh. Walaupun  penyakit cuek dan selengean juga masih sering kambuh. Yah, namanya juga karakter, dipoles bagaimanapun gak akan bisa benar-benar hilang.

Cerita seperti ini tidak hanya terjadi pada diri saya dan teman-teman. Saya rasa kebanyakan cewek juga seperti itu. Mau setomboy  dan secuek apapun, ketika waktunya tiba sisi feminin itu akan muncul dengan sendirinya. Tuhan sudah menciptakan wanita sebagai makhluk penuh kelembutan dan naluri keibuan, hanya masalah waktu dan faktor lingkungan saja. Kalo ada cewek yang wataknya keras dan nyangar, itu tampak luarnya saja, jauh di dalam hatinya dia pasti punya sisi yang sensitif yang gampang tersentuh. Karena memang begitulah adanya.

Kita semua mengalami perubahan, tidak hanya perempuan, namun juga laki-laki dan semua makhluk hidup di muka bumi. Kita semua terus bermetamorfosis, mencari sisi terbaik, menggali potensi yang ada pada diri, mencari jati diri kita yang sebenarnya. Dan lingkungan sekitar punya peran penting dalam proses metamorphosis itu. Seperti kata Sindentosca:

“Persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Persahabatan bagai kepompong, hal yang tak mudah berubah jadi indah”

Tidak bisa dipungkiri keluarga dan sahabat yang ada di sekitar kita adalah faktor yang paling mempengaruhi arah metamorfosis kita.  Akan menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk. Seperti sebuah kalimat dalam buku 9 Matahari, “You can’t choose your family, but you can choose your friend to be your family.” Jika kebetulan latar belakang keluarga tidak mendukung untuk perubahan yang lebih baik, kita masih bisa mencari teman dan persahabatan yang mendukung tujuan kita. Persahabatan yang bisa mengubah ulat menjadi kupu-kupu, bukan jadi belatung yang menjijikkan(eh, emang ulat bisa jadi belatung yah?). Persahabatan yang tidak hanya menawarkan kesenangan dan hura-hura namun juga pelajaran dan hikmah untuk terus mengembangkan kepribadian diri. Jadi intinya, harus pandai bergaul. Kata seorang teman, boleh berteman dengan siapa saja, tapi bersahabatlah dengan orang yang bisa menjadikanmu lebih baik. Atau kata mas Opick, Obat Hati itu salah satunya adalah berkumpul dengan orang shaleh. “Bergaul dengan minyak wangi, maka kita akan ketularan wangi. Bergaul dengan pandai besi, maka kita akan kecipratan bunga apinya.” Itu kata Rasulullah, dan seperti itulah adanya dalam kehidupan. Semua kembali ke tujuan kita masing-masing, ingin bermetamorfosis ke arah yang lebih baik ataukah sebaliknya?