Ketika Harus Memilih…

Mengingat kejadian seminggu lalu waktu pulang kampung. Baru bangun tidur, tiba-tiba mama bilang, “Mi, dicari bu bidan tuh!”. Jelas saja saya heran, ada urusan apa saya dicari ama bidan? Lha yang habis melahirkan itu bukan saya, tapi kakak ipar saya. Membaca raut muka saya yang heran itu mama segera menambahkan, “Itu, bidan Ely…”. Oalah…ternyata yang dimaksud teman saya toh.

Seperti yang pernah saya ceritakan di sini. Ely itu adalah teman saya sejak kecil. Usia kami hanya terpaut sepuluh hari. Kami sudah berteman sejak kami berdua belum tau membaca dan menulis, bahkan ngelap ingus. Walaupun waktu SMP sampai SMA kami terpisah dikarenakan  saya mengemban tugas suci nan  mulia untuk menuntut ilmu di pesantren, tapi kami tetap berteman sampai saat ini. Dia sudah lulus lebih dari setahun yang lalu dari pendidikan D3 Kebidanan-nya di Makassar. Dan setelah itu dia kembali mengabdikan diri di kampung. Tidak lama kemudian seorang pemuda yang masih sekampung dengan kami datang melamarnya, dan lamaran itu diterima oleh pihak keluarganya. Meskipun sempat ada kisah “Siti Nurbaya di era informatika”, tapi akhirnya bulan Juni lalu mereka menikah dan kini  perut sahabatku mengandung calon bayi mereka yang sudah berumur 6 bulan. Kebahagiaan sahabatku pun semakin lengkap ketika dia lulus CPNS beberapa bulan lalu. Sekarang dia tiap hari bolak-balik depan rumah ke PUSKESMAS yang letaknya juga ga begitu jauh dari rumah kami- yang bersebelahan- dengan seragam putih khas pegawai kesehatan, atau sesekali seragam cokelat  khas PNS .

Bagi keluarga dan sebagian besar orang di kampung saya, begitulah seharusnya hidup. Seperti jalan hidup Ely. Sekolah, SD, SMP, SMA, kuliah di Makassar, kemudian kembali ke kampung menjadi pegawai negeri, menikah, punya anak, punya cucu, dan menikmati  hari tua dengan uang pensiun sampai  saatnya menutup usia. Tidak ada yang lebih menjanjikan dan menyediakan jaminan hidup layak selain menjadi guru atau pegawai negeri. Begitu pula pandangan kedua orang tua saya.

Bukannya saya menganggap remeh profesi Pegawai Negeri, toh saya bisa hidup sampai sekarang ini juga dari gaji kedua orangtua saya yang juga pegawai negeri. Apalagi jaman sekarang, kenaikan gaji pegawai selalu jadi ‘jualan’ di setiap kampanye pilkada dan pilpres.  Tidak heran kalo banyak orang yang sampai menghalalkan segala cara untuk lulus jadi CPNS, gajinya lumayan, belum lagi ‘kewenangan’ setelah mendapat jabatan. Tapi tetap saja, menjadi PNS bukanlah cita-cita saya. Entahlah, rasanya saya tidak terlahir untuk memakai seragam cokelat kehijau-hijauan itu.

Tapi yang namnya cita-cita versus kemauan orang tua…selalu saja melahirkan konflik yang tak pernah ada habisnya. Seperti Keenan(Perahu Kertas) yang tidak boleh melukis, dan Alif(Negeri lima menara) yang terpaksa mengubur impiannya masuk SMA Bukittinggi karena harus masuk pesantren. Itu juga  terjadi pada diri saya. Parahnya, ini tidak hanya  terjadi sekali. Meskipun saya tau, kedua orang tua pastilah menginginkan hal terbaik untuk anak-anaknya…orang tua mana yang ingin melihat anaknya gagal dan menderita? Dan sebagai seorang anak, mematuhi orang tua adalah kewajiban. Itu sudah pasti.

Maka ketika orang tua saya menginginkan saya SMP di pesantren, saya pun patuh. Padahal NEM saya waktu itu cukup bagus untuk diterima di SMP Unggulan di kabupaten Barru. Begitu pula saat lulus SMP, diiming-imingi janji ortu bahwa saya boleh melanjutkan SMA kelak di luar pesantren, saya belajar keras untuk mendapatkan nilai terbaik supaya bisa diterima di SMA Favorit di Makassar. Kalau bukan SMA Negeri 2 Malino, yah…SMA 17, bayangan itu sudah nyata sekali pikiran saya. Tapi setelah mengantongi nilai terbaik di sekolah, semuanya hancur…tiba-tiba keputusannya berubah, saya harus lanjut di pesantren 3 tahun lagi, titik. Dan apa daya saya? Saya hanya seorang anak. Mereka yang membuat saya ada di dunia, membesarkan, dan mendidik saya dengan segala perjuangan mereka. Dan yang paling menyakitkan ketika lagi-lagi saya harus mengubur mimpi untuk kuliah di Universitas impian saya dengan alasan saya tidak boleh meninggalkan Makassar, “Ga usah kuliah jauh-jauh, nak!” bujuk mama waktu itu, “Kalau kamu sakit bagaimana? Apalagi fisik kamu lemah, siapa yang mau rawat?” Dan saya hanya bisa diam dan menangisi semuanya dalam hati. Dengan berat, saya mengucapkan selamat tinggal pada mimpi-mimpi indah itu.

Menyesalkah saya dengan semua itu? Tidak. Walaupun pada awalnya begitu berat, namun pelan-pelan saya bisa menerima semuanya sebagai takdir yang sudah digariskan Tuhan untuk saya. Toh, salah satu tujuan hidup saya juga adalah membahagiakan kdua orangtua, jadi apa salahnya mengikuti kemauan mereka?

Jadi apakah terlalu egois jika saat ini saya ingin memilih  jalan saya sendiri sekali ini saja? Saya hanya tidak ingin cerita hidup saya berakhir seperti cerita hidup orang lain. Saya ingin keluar dari ‘kebiasaan’ di keluarga saya itu. Saya ingin berbeda, mencari hidup saya sendiri, melihat sampai sejauh mana saya bisa berkembang. Hanya itu, hanya sebuah  keinginan sederhana.

Rasanya memang dilematis, di satu sisi kita menyayangi kedua orang tua melebihi siapapun di dunia ini. Namun di sisi lain, ada suara-suara yang memberontak, yang menginginkan kebebasan. Entahlah..Mungkin saat ini saya tidak bisa merasakan apa yang mereka khawatirkan karena posisi saya sebagai seorang anak. Mungkin saya akan melakukan hal yang sama, bahkan lebih, saat saya menjadi orang tua kelak. Saat ini saya hanya menuruti kata hati, semoga kelak mereka akan mengerti dan bisa menerima. Dan yang paling penting, meridhoi semua keputusan yang saya ambil. Karena  saya masih percaya sepenuhnya bahwa ridho orang tua adalah ridho Allah. Semoga.

image from www.deviantart.com