Kaku…

Aku datang. Dengan dada yang disesaki kerinduan. Dengan sejuta kata yang ingin kuutarakan. Dengan begitu banyak kisah yang ingin kuceritakan. Aku di sini, kini. Demi menyamakan ruang, menghapus jarak yang membentang. Menempuh perjalanan untuk sebuah pertemuan. Membayar semua hari yang kulewati dalam kesepian.

Yah. Dan kamu di sini, kini.
Di hadapanku.
Tanpa kata.
Tanpa suara.
Seolah-olah aku tak ada.

Beku. Bisu. Kaku. Berdua kita hanya terpaku. Tak pedulikan detak waktu yang terus berpacu.
Ingin rasanya ku lempar kepalamu dengan sepatu. Agar kau tak hanya terus membatu.

Lalu apa gunanya bertatap muka?Jika kita masih saja kehilangan kata. Bahkan untuk hanya sekedar saling menyapa. Seperti dua orang asing. Tidak ada canda, tak ada tawa. Semuanya tidak lagi sama.

Sungguh hatimu benar –benar tak bisa dibaca. Kadang begitu hangat dan terbuka. Namun tiba-tiba pergi meninggalkan tanya. Ada apa?Sebenarnya apa yang salah?Bukankah katamu tak perlu mendengarkan mereka.?Karena kita memang tidak sedang jatuh cinta. Kemarin, hari ini atau mungkin esok lusa. Kecuali jika suatu hari kita menginginkannya.

Ah, aku lelah menunggu marahmu reda. Menanti diammu yang tak kunjung purna.

Aku hanya ingin kamu tahu. Tidak ada apa-apa. Tidak ada yang berubah. Aku masih menyayangimu sebagai seorang teman biasa. Apakah itu tak cukup untuk kau percaya?