Here is, Your Lifeline[part 2]

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman.

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang…

[Imam Syafi’i]

*********

Tiga bulan..yah, tiga bulan sudah tidak meninggalkan jejak apa-apa di halaman ini. Banyak alasan, walaupun memang sebagiannya hanya pembenaran. Pembenaran untuk kealpaan saya. Terkadang membuka halaman ini dan menghabiskan beberapa menit tanpa satu katapun berhasil dituangkan. Hanya menatap kosong. Beberapa kali punya draft, tapi akhirnya berujung di recycle bin, lagi dan lagi.

Menulis, seperti halnya membaca, memang semestinya harus dibiasakan. Sekali kamu meninggalkannya, maka rasanya akan sulit memulai lagi. Tapi sekali lagi, saya akhirnya kembali. Kembali pada panggilan hati. Menulis, hanya untuk sedikit merasa berarti, sebelum mati. Meskipun hanya beberapa baris kata yang juga tidak berarti.

And here I am now…


Sekali lagi, hidup memang susah ditebak. Gerak yang terlalu dinamis, perubahan yang begitu drastis. Rasanya baru kemarin saya berada di rumah, menikmati liburan panjang sambil menunggu panggilan masuk kerja. Tau-tau sekarang saya sudah berada di belahan bumi bagian lain. Di sisi lain pulau ini. Jauh dari rumah. Jauh dari orang-orang yang saya sayangi. Jauh dari kota tempat saya tumbuh. Orang-orang yang tidak akrab, lingkungan yang berbeda, dan atmosfir yang sama sekali asing.

Seperti waktu pertama kali menginjakkan kaki di pesantren belasan tahun silam. Harus belajar mulai dari awal, menyesuaikan diri, memulai hidup baru, fyuhhhh.  Bagian terberatnya adalah adalah berada di lingkungan heterogen di mana kita sebagai pihak minoritas. Kalo saja sebaliknya, mungkin semua akan lebih mudah. Kota ini punya alam yang indah, seperti yang selama ini kuimpikan. Kota yang tidak terlalu besar, jalan berbukit-bukit, hawa yang masih lumayan sejuk. Ah, entahlah… Benar juga peribahasa itu, hujan batu di negeri sendiri masih lebih baik dari hujan emas di kampung orang. Sebagaimanapun buruknya, kampung halaman tetaplah tempat yang akan selalu dirindukan.

Tapi yah, sudahlah…Mungkin memang begini garis hidup yang ditakdirkan buat saya. Mencoba tetap bersyukur, bahwa seberapa pun saya merasa menderita, masih banyak orang yang jauh lebih tidak beruntung.  Dan kita tidak pernah tahu rencana Tuhan, mungkin kita melihatnya sebagai cobaan, padahal sesungguhnya adalah anugerah. Hanya berdoa, semoga selalu diberi kesabaran dan kekuatan untuk melanjutkan hidup meski jauh dari orang-orang terkasih. Suatu hari, saya yakin akan ada jalan untuk kembali pulang, pasti.