Habiskan saja gajimu!!!

Menghabiskan gaji mungkin adalah hal yang paling mudah dan menyenangkan untuk dilakukan. Setelah susah payah memeras keringat, tentu kita ingin menikmati hasil kerja keras kita. Namun di sisi lain, kita harus memikirkan masa depan dan menyiapkan dana darurat jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Untuk itu, kita harus mengatur keuangan dan menyisakan gaji kita supaya bisa menabung di akhir bulan.

773963_M

Atur uangmu, sebelum uang mengatur hidupmu

“Seandainya gaji saya lebih besar, pasti saya bisa menabung lebih banyak, ” betapa sering kita mendengar kalimat ini diucapkan oleh orang lain, bahkan mungkin oleh kita sendiri. Namun kenyataannya, berapapun besarnya gaji, tidak pernah cukup untuk ditabung. Semakin besar gaji, justru mengakibatkan kita semakin konsumtif. Jadi, dalam hal ini bukan masalah berapa besarnya gaji, namun mungkin ada yang salah dengan cara kita mengelola keuangan kita.

Kebiasaan mengatur uang dengan menyisakan untuk ditabung seperti yang kebanyakan dari kita lakukan di atas sangat menyakitkan dan cenderung membuat kita stress. Coba bayangkan jika setiap bulan kita mengatur alokasi keuangan sehemat mungkin, menahan diri sebisanya untuk pengeluaran yang dirasa tidak perlu, namun di akhir bulan selalu tidak bersisa, atau hanya sedikit sekali untuk ditabung. Tentu melelahkan bukan?

Dalam buku ini penulis ingin mengubah pola pikir kita yang terbiasa dengan menyisakan gaji menjadi ‘menghabiskan’ gaji. Tentu, menghabiskan gaji dalam hal ini bermakna positif, yaitu menghabiskan gaji di jalan yang benar. Bagaimana menyusun prioritas pengeluaran? Hal apa saja yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun prioritas keuangan? Mana yang lebih utama, cicilan utang, saving, atau memenuhi kebutuhan hidup dan shopping? Semua jawaban dari pertanyaan ini dipaparkan oleh penulis dengan bahasa yang ringan.

Buku ini bukanlah panduan untuk berinvestasi, penulis lebih menekankan ke perubahan pola pikir dan mentalitas kita dalam mengatur keuangan. Dari menyisakan di akhir menjadi menyisihkan di awal. Dari mentalitas orang miskin menjadi mentalitas orang kaya.

Mentalitas orang kaya adalah mental orang yg tidak merasa kekurangan, atau merasa cukup dg yg dimilikinya. Maka, ia tidak merasa kehilangan ketika berbagi, tidak merasa kehilangan ketika memberi, karena sudah merasa “kaya”.

Sebaliknya, mentalitas miskin adalah tidak pernah merasa cukup dan puas. Selalu merasa kurang dan ingin lebih sampai tidak berbatas. Walau harta sudah melimpah ruah sampai tidak habis diwariskan pd beberapa generasi, tetapi tetap saja tidak merasa cukup. Kikir ketika memberi, karena masih merasa kurang untuk diri sendiri. Dengan mentalitas miskin, fokusnya adalah mengumpulkan harta untuk dirinya sendiri..

Dari kutipan di atas, penulis tidak hanya menekankan bagaimana mengatur keuangan untuk sekedar memperkaya diri, penulis juga mengikatkan kita tentang pentingnya berbagi. Karena sesungguhnya harta adalah titipan Tuhan, di dalamnya juga ada hak-hak orang lain. Hal ini merupakan nilai plus yang membuat buku ini berbeda dari buku perencanaan keuangan yang pernah saya baca sebelumnya yang lebih berbau kapitalis. Selain itu, dibandingkan dengan buku perencanaan keuangan lain yang biasanya kaya akan istilah ekonomi, buku ini lebih mudah dimengerti. Buku yang sangat cocok bagi ibu rumah tangga muda seperti saya, atau siapapun yang sedang  belajar mengatur keuangan. Tidak rugi membeli dan membacanya.

Jadi, tunggu apa lagi? Habiskan saja gajimu!