Habibie-Ainun…

Mungkin agak basi, mengingat kebanyakan orang sudah mengetahui kisah ini, baik dari membaca buku atau menonton filmnya. Tapi saya memang baru saja menamatkan buku ini tadi sore dan dari awal sudah berniat menulis reviewnya, jadi ya niatnya dilanjutkan saja.

[behind the scene..]

Pertama kali saya membaca buku ini sekitar dua tahun lalu di kosan teman. Sejak pertama liat di toko buku sebenarnya pengen langsung beli. Berhubung waktu itu status masih pengangguran yang hidup dari subsidi ortu, jadinya keinginan itu harus dipendam. Setelah ada budget beberapa bulan kemudian, saya ke toko buku lagi, bukunya malah lenyap dari peredaran. Begitu menemukan buku ini di rak buku teman, sempat baca beberapa halaman, tapi ga bisa dibawa pulang karena si empunya belum selesai baca. Akhirnya saya berhenti baca, dan karena waktu itu juga jarang ke toko buku, lama kelamaan jadi lupa sama buku ini.

Sampai pertengahan tahun lalu, ketika saya baca di twitter bahwa buku Habibie-Ainun akan difilmkan. Dari situ baru teringat lagi. Oh my…kisahnya sudah mau difilmkan dan saya bahkan belum baca bukunya?! Dan melipirlah saya ke toko buku terdekat untuk mendapatkan buku ini. Namun karena sebelumnya sudah ada setumpuk buku yang belum dibaca, akhirnya tidak kesampaian juga membaca buku ini, filmnya malah keburu keluar.

Setelah menonton filmnya, rasanya saya kurang puas. Saya percaya, bukunya pasti lebih lengkap dan detail. Karena seperti kebanyakan film yang diadaptasi dari buku, apalagi di Indonesia, pasti sudah dibumbui drama di sana-sini. Akhirnya saya mulai membaca buku ini di awal tahun. Sempat mandeg di pertengahan, pas bahasannya kebanyakan politik, dan tergoda baca novel baru yang lebih menarik, hehehe*kebiasaan buruk*. Akhirnya baru kelar hari ini. Sebuah perjalanan yang cukup panjang untuk membaca sebuah buku.

Habibie-Ainun, sebuah kisah cinta sejati yang nyata….

Buku ini ditulis sendiri oleh Bapak Prof. B. J. Habibie, salah satunya untuk menghindari gejala psikosomatik(jangan tanya artinya apa, googling aja ya :p) yang beliau derita sejak kepergian Almarhumah Ibu Ainun. Di dalamnya diceritakan kisah mereka, sejak pertama kali saling mengenal di sekolah. Kemudian pertemuan kembali beberapa tahun kemudian setelah mereka berdua lulus kuliah. Saat itulah benih-benih cinta mulai tumbuh di hati mereka, yang akhirnya berlanjut ke jenjang pernikahan.

Betapa setianya Ibu Ainun mendampingi Pak Habibie dalam mengarungi pasang surut kehidupan rumah tangga.  Sejak beliau masih melanjutkan pendidikan sambil bekerja di Jerman, kembali ke Indonesia menjabat sebagai menteri selama 4 periode pemerintahan, sampai ditunjuk menjadi Wakil Presiden dan akhirnya menjadi Presiden ketika Presiden Soeharto lengser. Semua diceritakan oleh Pak Habibie secara detail, lengkap dengan hari, tanggal, bahkan jamnya. Yang membuat terhau adalah detik-detik ketika almarhumah Ibu Ainun mengidap kanker Ovarium Stadium 4 dan menemui ajalnya 10 hari setelah ulang tahun pernikahan mereka yang ke-48. Saya sampai tersedu-sedu membacanya, lebih sedih dari saat nonton filmnya malah.

Tidak hanya kisah cinta seperti yang ditonjolkan di film, buku ini memuat ide-ide dan pemikiran Pak Habibie untuk kemajuan bangsanya, kecintaan beliau dan harapan-harapan untuk negara ini. Juga perjalanan karier beliau bersama Bu Ainun mengemban berbagai amanah, mulai dari jabatan kenegaraan, organisasi politik, kemasyarakatan dan yayasan sosial.

Dari buku ini, saya bisa merasakan betapa dalamnya cinta Pak Habibie kepada almarhumah istrinya. Kalimat “cinta sejati, suci, sempurna abadi” yang terkenal itu sampai beberapa kali diulang-ulang dalam buku. Begitu pula dengan istilah “Manunggal jiwa dan raga”. Juga ungkapan kerinduan seperti “Mata yang sealu saya rindukan” dan “senyum sang selalu mengilhami dan memberi inspirasi”. Saya tidak menyangka bahwa seorang ilmuwan ahli pesawat terbang, mantan orang nomor satu negeri ini bisa segitu romantisnya. Jadi anggapan bahwa seorang engineer itu kaku dan tidak bisa romantis tidak benar adanya. Kisah Habibie-Ainun ini pun menjadi bukti bahwa cinta sejati itu ada dan nyata. Bukan hanya sekedar roman picisan seperti Romeo-Juliet atau Laila-Majnun.

Yang membuat saya salut, adalah tulisan yang begitu detail, lengkap dengan nama tempat, hari, tanggal, bulan, tahun, bahkan jamnya. Di usia yang tidak lagi muda, Pak Habibie masih bisa mengingat semua itu. Kalaupun semua itu diambil dari catatan dan jurnal beliau, betapa hebatnya beliau yang tidak pernah luput mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam tulisan. Dengan segala kesibukan yang dijalani, beliau masih sempat menulis jurnal. Wew, jadi malu. Sekarang saja, saya sudah mulai lupa kejadian-kejadian 5-10 tahun yang lalu*tepuk jidat sendiri*. Makanya mulai sekarang harus rajin-rajin menulis!

Overall, i love this book. walaupun di awal-awal kening mesti berkerut membaca teori-teori konstruksi pesawat dan tetek bengeknya. di tengah-tengah juga banyak masalah politiknya. Tapi ada banyak pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik dari perjalanan hidup orang besar seperti Pak Habibie dan Almarhumah Ibu Ainun. And believe me, banyak hal yang hanya bisa kita temukan di buku, tidak di film. So, yang belum baca bukunya, saya rekomendasikan untuk segera membacanya.

****

Btw, mulai hari ini saya ikut project #bacaituseru yang digagas oleh k’ Nanie  dan temannya untuk memacu minat baca yang akhir-akhir ini sering down. Jadi ke depan harus lebih rajin nulis review. Untuk detail projectnya bisa diliat di sini, siapa tau ada yang berminat daftar. So, let’s read more and more books ^^