Goodbye…


Rindu sangat bercerita di halaman ini. Sebulan kemarin terjebak dengan rutinitas baru, pergi pagi-pulang malam-sampe di rumah ketiduran, bahkan makanpun kadang lupa. Berat badan turun drastis, penampakan saya sudah seperti tegkorak hidup. Rasanya seperti berada di dunia lain. Walaupun masih tetap eksis di dunia maya, sekedar menyapa, sekedar mencari bahan untuk tertawa di saat tubuh dan pikiran benar-benar lelah. Obat mujarab di saat sedang diliputi penat. Benar-benar melelahkan, pikiran gampang stress, badan cepat drop. Beginilah kalo tubuh baru beradaptasi lagi setelah setahun lebih tidak difungsikan..hehehe

2010..Year of Struggle
Dan waktu terus melaju… Sudah 2011 ternyata, sudah setahun saya tidak apdet blog. Pasti fans-fans saya kangen ingin baca tulisan baru di halaman ini*dilempari tomat*. Seperti biasa, tidak ada acara spesial di malam tahun baru yang bagi saya memang sama saja dengan malam yang lainnya. Sebenarnya ada ajakan ngumpul bareng teman kuliah, juga ajakan dari mama buat pulkam dan kumpul bareng keluarga. Karena sedang amat sangat bad mood untuk berada di keramaian, akhirnya saya melewatkannya dengan mengunci diri di kamar, dengar MP3, membaca, tidur. Kalo tahun-tahun lalu saya selalu sudah punya resolusi baru di akhir tahun, kali ini saya malah belum punya satu poin pun sampai detik ini*parah*. Sudah mencoba bertapa selama dua hari, tapi hasilnya nihil. Jadi untuk sementara, resolusi saya di 2011 ini hanya beberapa poin yang belum sempat terwujud di 2010 lalu* ternyata masih lumayan banyak juga, hehehe*.

Kalo ditanya, apa yang paling saya ingat dari 2010?Jawaban saya adalah PERJUANGAN. Tahun ini adalah tahun yang paling berat sejauh perjalanan hidup saya 22 tahun ini. Lepas dari status mahasiswa, berjuang mencari kehidupan dan penghasilan. Berkali-kali jatuh bangun dan mengecap kegagalan. Ditambah dua kali sakit hati karena kebodohan yang sama. Lengkap sudah, benar-benar memprihatinkan. Untungnya saya masih punya cukup iman untuk tidak gantung diri atau nenggak Baygon*naudzubillah deh*.

Setelah menghitung-hitung, ternyata selama setahun ini saya telah menghabiskan 23 rangkap berkas lamaran. Jumlah yang lumayan banyak bukan? Daftar di sana-sini, mulai dari lowongan di internet, kampus, iklan Koran, sampai rekomendasi teman. Dari BUMN ternama, Bank milik pemerintah, Kementrian, Perusahaan Seluler terkemuka, sampai perusahaan yang namanya pun tidak pernah terdengar sebelumnya. Beberapa kali punya harapan karena saya selalu lulus tes hingga beberapa tahapan, tapi ujung-ujungnya selalu gagal di tahap akhir. Beberapa yang memang gagal sejak awal. Ada yang nyuruh nunggu kabar, tapi sampai sekarang tak kunjung datang. Sempat salah daftar, yang tadinya ngaku mitra BUMN ternyata adalah sebuah perusahaan pialang saham. Pernah juga tertipu ma perusahaan abal-abal yang katanya cari admin, tau-tau mau dijadikan sales buat jual mixer*ini pengalaman paling buruk dari semuanya*(doh). Ada-ada saja orang yang memanfaatkan kesulitan orang lain…

Saya jadi ingat dengan postingan saya yang ini, tidak pernah menyangka sebelumnya kalau ternyata saya juga akan mengalami hal yang sama dengan tokoh yang saya ceritakan. Sempat putus asa, kehilangan harapan. Seperti mayat hidup, melewatkan hari-hari dengan mengurung diri di kamar. Berhari-hari bicara dengan tembok, nangis tanpa sebab, atau hanya duduk termenung di sudut kamar. Waktu itu, rasanya dunia begitu gelap. Seperti berada di labirin yang tak berujung, tersesat, tanpa jalan keluar. Seperti terombang-ambing di tengah lautan luas, menunggu ombak membawaku ke pulau terdekat. Kehilangan rasa percaya, pada diri sendiri dan orang lain. Merasa tidak berguna sama sekali, dan tidak punya arti. Benar-benar di titik nadir.

Mungkin hanya teman-teman di Plurk yang tau benar bagaimana kacaunya keadaan saya waktu itu. Saya sendiri juga tidak menyangka, betapa saya bisa begitu rapuh dan labil. Berkali-kali mencoba kuat, tapi ternyata saya begitu lemah. Hanya karena mama, Bapak, dan sahabat-sahabat terdekat yang selalu berusaha memberi semangat, maka sayapun masih bertahan. Benar kata Eyang Confucius, “Our greatest glory is not in never falling, but in rising everytime we fall..”. Karena ternyata, bangkit dari kegagalan, apalagi setelah berkali-kali mengecapnya, itu bukan sesuatu yang mudah. Ada-ada saja bisikan pesimis dari dalam diri kita. Belum lagi pengaruh lingkungan yang semakin menjatuhkan. Orang-orang di masa seperti ini sangat rapuh, gampang down, dan begitu sensitif. Hanya kedekatan dengan Tuhan dan dukungan dari orang-orang terdekat yang bisa memberikan sedikit kekuatan untuk bertahan melanjutkan hidup dan perjuangan.

Dan kabar gembira itu akhirnya datang…
Awal bulan Desember, akhirnya saya dapat panggilan kerja. Bukan sesuatu yang saya idam-idamkan. Gaji tidak seberapa, dan bidangnya sangat tidak nyambung dengan latar belakang pendidikan saya. Hanya bantu-bantu di perusahaan yang masih tergolong punya keluarga. Yang penting, ada kesibukan dan saya tidak bengong lagi di rumah. Itu saja…

Beberapa minggu pertama sempat tenggelam dengan kesibukan baru ini. Sampai sempat lupa kalau saya ternyata mendaftar di salah satu Kementrian di Republik Indonesia. Entahlah,mungkin karena pengalaman sebelumnya di PU, ikut tes tanpa persiapan yang maksimal, jadi saya tidak banyak berharap. Tau-tau pas pengumuman saya salah satu dari 9 orang yang lulus tes tertulis. Alhamdulillah..gak nyangka banget. Trus lanjut ikut psikotest dan wawancara meski waktu itu dalam keadaan sakit. Sempat pesimis sih, karena waktu wawancara sedang tidak fit dan tidak siap sama sekali, jawaban saya asal banget. Tapi pas pengumuman terakhir, ternyata nama saya ada juga di sana. Satu dari tiga orang yang lulus. Setelah menyisihkan puluhan bahkan mungkin ratusan orang lainnya. Alhamdulillah…Terjawab juga doaku selama setahun ini. Tepat setahun setelah wisuda. Tepat di hari Ibu. Rasanya tidak bisa berkata-kata. Tengah malam dikabari ma Athir n Ria yang sibuk begadang sambil OL. Dan saya hanya bisa menangis. Teringat semua yang telah saya lalui untuk sampai ke hari ini. Bersujud dan mengucap syukur pada Tuhan, memohon ampun, karena ada masa-masa di saat sulit saya, ketika saya mulai meragukanNya. Ketika saya berpikir bahwa Dia mungkin tidak pernah mendengar doa saya.  Saya telah berprasangka buruk padaNya.

Hidup memang adalah sebuah perjuangan panjang. Kadang melelahkan, seringkali menyesakkan. Mungkin kita harus jatuh berkali-kali, merangkak, berjalan tertatih dan kemudian berlari. Semuanya harus dicapai dengan kerja keras, usaha yang maksimal, doa yang tak pernah putus dan keyakinan untuk tetap percaya pada harapan dan mimpi. Mungkin memang ada beberapa orang yang kelihatan selalu bisa meraih apa yang mereka inginkan dengan mudahnya. Mungkin Tuhan menginginkan jalan yang berbeda untuk menempa kita dan menjadikan kita lebih kuat. Tapi percaya, selalu ada ujung dari semuanya. Inna maal Usri Yusra…

2011…time to forgive n forget

Well, satu jalan sudah jelas. Masalah impian dan cita-cita sudah terselesaikan. Tinggal bagaimana membawanya ke arah yang lebih baik di masa depan. Tapi masalah yang satunya masih menggantung di awang-awang.

Seperti halnya semua orang yang menginginkan tahun ini lebih baik dari hari kemarin, saya juga punya harapan yang sama. Terutama masalah hati ini. Mungkin 2011 ini saya gabung di klub Philopobic saja, biar aman. Capek… All i wanna do is to forgive and forget. Memaafkan mereka yang  telah membuat saya sakit hati dan menangis-nangis. Toh bukan salah mereka, saya yang salah menetapkan hati pada mereka. Dan yang paling utama, melupakan semuanya. Tidak menoleh ke belakang lagi. Teringat salah satu kutipan di buku La Tahzan, “…karena air pun mengalir ke depan, segala sesuatu bergerak maju ke depan…” Dan sayapun harus mulai menatap masa depan. Tidak mudah, tapi saya tahu saya mampu. Semoga…

Jadi, saatnya mengucapkan selamat tinggal pada 2010 yang telah mengajarkanku banyak hal. Selamat tinggal, terima kasih untuk semua pelajaran dan kenangan yang akan ku simpan hanya dalam sekeping ingatan. I’m whispering Goodbye for all those past…Sayonara!