Electricity, Blogging, Youth, and Pray….for A Better Indonesia

Jam 6.34 WITA pagi, intro lagu Lantai Merah-nya Monkey to Millionaire berbunyi lantang memenuhi seantero kamar.
“Selamat hari Listrik…”
Dari sahabat saya, Dian. Yaelah..kirain apa…

Jujur, saya memang tidak ingat banyak hari-hari nasional kecuali 17 Agustus dan Kesaktian Pancasila. Secara ulang tahun orang-orang terdekat saja suka lupa atau ketukar. Malah saya baru tahu kalau ada Hari Listrik Nasional segala*padahal saya alumni elektro,ckckck*.

Dan pagi ini beranda Pesbuk saya pun dipenuhi oleh status teman-teman dan kakak senior yang kerja di PLN, tentang harapan-harapan mereka dalam rangka hari Listrik ini. Semoga pembangunan infrastuktur kelistrikan di Indonesia semakin maju, semoga semua Rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke bisa menikmati listrik, semoga PLN semakin makmur biar gaji mereka naik*jiahh…itu sih enak di mereka, tapi ga papa ding, diaminkan saja, siapa tau saya kecipratan ,hehehe*.

Nah, kalo kita yang bukan pegawai PLN sih doanya ga banyak-banyak, asal bisa menikmati listrik tanpa acara pemadaman bergilir saja, kita sudah senang. Jangan tarifnya mulu yang meningkat, pelayanannya ga ikut meningkat. Giliran telat bayar sehari saja dendanya tanpa ampun, gak terima alasan. Tapi giliran pelanggan komplain soal pemadaman, kita harus maklum dengan sejuta alasan yang dikemukakan oleh pihak PLN*kok jadi emosi begini yah?*

Dalam rangka hari listrik nasional ini, PLN mencanangkan sebuah kegiatan bernama GO GRASS, Program Gerakan Sehari Sejuta Sambungan. Jadi ceritanya mulai hari ini PLN melayani sejuta sambungan listrik baru bagi masyarakat Indonesia. Yah, mudah-mudahan energi listrik yang sangat vital ini memang benar-benar bisa dinikmati seluruh masyarakat secara merata. Secara hari gini, apa sih yang gak pake listrik? Dari makan-minum sampe buang air juga butuh listrik*buat penerangannya maksudnya,hehehe*. Semoga dengan hari Listrik ini, PLN bisa berbenah, bangkit dari krisis, terus memajukan listrik Indonesia. Dan kita sebagai pengguna, bisa memanfaatkan energi yang tidak tak terbatas ini secara lebih bijak. Amin

In the same day, for Indonesian Blogger…


Beberapa hari yang lalu, sekilas saya baca-baca postingan teman-teman di Milis Blogger Makassar*yah, saya memang daftar milis, walaupun gak aktip*. Di sana ada sebuah tulisan menarik berjudul “Jika Suatu Ketika Tidak Ngeblog Lagi”. Sumpah, saya sampai terharu membaca tulisan ini.

Judul tulisannya saja sudah begitu menarik. Saya pun menanyakan pertanyaan yang sama pada diri saya. Bagaimana jika suatu saat saya berhenti ngeblog? Bagaimana jika suatu hari saya tidak ada minat lagi untuk menulis seperti selama ini? Apa yang akan terjadi? Dan kenapa pula selama ini saya ngeblog? Sampe rela-rela menghabiskan waktu dan Rupiah di warnet demi bisa posting secara rutin*walaupun juga sering absen sampe beberapa minggu*.Apa gunanya semua ini?

Awalnya, saya juga ngeblog karena iseng, di samping karena saya memang suka nulis sejak SD. Walaupun cuma menulis di buku diari, ataupun puisi dan cerpen-cerpen tak jelas di halaman belakang buku pelajaran yang kini entah di mana keberadaannya. Setelah kenal blog, saya semakin menyenangi kegiatan yang satu ini. Menuliskan sesuatu yang lagi mengganjal di pikiran saya, entah itu sekedar luapan isi hati, puisi, cerita-cerita tentang kisah hidup, atau pandangan tentang hidup dan yang terjadi di sekeliling saya. Mengajarkan saya untuk terbiasa menuangkan pikiran dengan cara yang lebih baik.

Dengan blog, saya bisa mendokumentasikan hidup saya, tidak perlu lagi khawatir bukunya hilang atau dipinjam teman dan tidak dikembalikan. Saya bisa bebas menuliskan apa saja, dari hal yang paling serius atau hanya sekedar nyampah. Rasanya seperti punya satu rubrik sendiri di majalah. Walaupun tulisan saya masih sangat amatir, tulisannya kadang tidak sistematis, gaya bercerita seenak jidat, dan tata bahasa yang amburadul. Walaupun saya tidak punya begitu banyak pembaca seperti blogger-blogger lain. Cukuplah teman dekat yang setia membaca dan berkomentar. Tapi itu saja sudah sangat berarti buat saya.

Blog bagi saya kini tidak hanya sekedar media atau trend, tapi eksistensi. Bukti otentik bahwa seorang Ismi Muthiah pernah ada di muka bumi. Hari ini, dan beberapa tahun ke depan orang-orang boleh tahu bahwa saya ada, karena mereka melihat saya hidup. Namun setelah saya mati? Apalagi yang bisa saya berikan buat orang lain? Saya jadi teringat ungkapan, “Aku berpikir, maka aku ada”. Juga beberapa pemikiran dari ilmuwan besar lain yang hidup beberapa abad silam, Aristoteles, Galileo Galilei, Thomas Alva Edison, Enstein, Ibnu Sina, dan eyang-eyang saya yang lain. Bagaimana seandainya ilmu yang mereka punya hanya disampaikan sebatas ucapan lisan atau hanya mengendap di kepala? Bagaimana jika tidak ada yang berpikir untuk menuliskannya? Apakah peradaban manusia akan semaju sekarang ini?

Tidak salah memang kalau kita diperintahkan untuk mengikat ilmu dengan menulis. Maka ungkapan Aku berpikir Maka Aku Ada-pun saya perluas menjadi, Aku Menulis apa yang aku pikirkan maka aku benar-benar Ada. Dengan menulis, kita tidak hanya sekedar ada dan hidup, tapi bisa memberi manfaat buat orang lain. Karena kita tidak punya kesempatan yang sama untuk menulis dan menerbitkan buku, yah paling tidak blog adalah sarana menulis yang cukup. Yang penting adalah, bagaimana niat baik kita bisa sampai ke orang lain.

Dan hari ini, 27 Oktober 2010, yang juga bertepatan dengan hari Blogger Indonesia, saya semakin mengukuhkan niat untuk terus menulis dan ngeblog. Juga menularkan virus blogging dan semangat menulis ke orang-orang di sekitar saya. Berbagi apa saja yang bisa bermanfaat buat orang lain. Yah, semoga bisa terus memperbaiki kualitas tulisan. Walaupun masih saja kadang khilaf dengan tulisan-tulisan curcol di saat sedang kehabisan ide,hehehe…

Selamat hari Blogger, para sahabat Blogger yang budiman…Semoga dengan blogging, kita bisa ikut memajukan peradaban bangsa…^^

28 Oktober, ketika pemuda Indonesia berikrar untuk bersatu…

Jujur sejujur-jujurnya, kalau ditanya masalah nasionalisme, saya mungkin adalah orang yang amat sangat tidak nasionalis sama sekali. Saya jarang sekali mendengarkan lagu Indonesia. Hanya suka satu, dua band Indonesia berkualitas yang sekarang ini semakin sulit dicari. Lebih suka nonton pelem-pelem Hollywood dan drama Korea daripada pelem lokal atau sinetron di layar kaca yang ceritanya gitu-gitu aja. Saya juga terbilang jarang dan susah menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai EYD, lisan maupun tulisan, kecuali jaman bikin tugas dan skripsi waktu sekolah dulu. Saya gak tahu satupun jenis tari-tarian tradisional, dan pengetahuan yang amat sangat minim tentang sejarah, budaya, dan geografis Indonesia*lha waktu sekolah dulu kerjaan saya cuma tidur di jam pelajaran itu*.

Saya sampai sering bertanya-tanya sendiri, Apa yah yang bisa saya banggakan dari Indonesia ini?Yang lebih parah, malah kadang terlintas pikiran..Kenapa saya harus terlahir di Indonesia?Bukan di negara lain yang lebih maju? Belum lagi kalau harus memikirkan permasalahan pelik yang terjadi di negara ini. Krisis ekonomi, krisis moral, kriminalitas yang merajalela, korupsi, penegakan hukum yang pincang, pembangunan yang tidak merata. Semua seperti benang kusut yang tidak ada lagi cara untuk menguraikannya. Dan saya yakin, saya bukan satu-satunya orang yang berpikir demikian. Ada banyak kepala dengan pemikiran yang sama. Yang kemudian memilih cuek dan apatis terhadap semua masalah di negeri ini. Lha, buat cari makan untuk hidup sendiri saja sudah susah. Apalagi kalau harus ditambah dengan memikirkan negeri yang semakin kacau balau ini.

Lalu bagaimana jika akhirnya semua orang berpikir sama? Siapa lagi yang akan melanjutkan pembangunan negeri ini jika kita semua menutup mata? Ataukah kita akan membiarkan negeri ini semakin hancur dan hanya tinggal nama? Akankah kita menyia-nyiakan pengorbanan mereka yang dulu berjuang, meneteskan darah dan air mata demi kemerdekaan bangsa ini? Pemuda-pemuda pemberani yang 82 tahun lalu bersatu mengikrarkan tekad mereka untuk membela persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia?

Seharusnya kita malu pada mereka. Dengan semua potensi yang kita punya, pendidikan yang kita dapatkan, dan keadaan yang jauh lebih baik seperti sekarang, kita bisa memberikan sumbangsih yang jauh lebih besar untuk bangsa ini. Sebagai pemuda, generasi penerus yang akan mengemban amanah untuk melanjutkan tampuk kepemimpinan bangsa ini. Yah, saya pribadi sangat malu. Sampai sekarang ini, tidak bisa memberikan apapun untuk negara saya. Bahkan untuk mencintai dengan sepenuh hati pun masih sulit.

Dan ketika berita-berita yang memilukan itu datang, bencana demi bencana itu memporak-porandakan negeri, Tsunami Aceh, Gempa Jogja, Lumpur Lapindo, Bencana Wasior, Gempa Padang, Mentawai, Letusan Merapi,dan bencana-bencana lain yang datang beruntun. Semua itu seharusnya cukup untuk menggugah rasa nasionalisme kita. Di saat saudara-saudara kita di seberang lautan diliputi kecemasan, bahkan tidak punya tempat untuk beristirahat, sebagian kita sibuk justru sibuk mengeluh, sebagian hanya diam, dan hanya sebagian kecil yang bergerak. Ah, lagi-lagi saya malu karena tidak bisa melakukan apa-apa kecuali mengirimkan doa.

Teringat kata seorang teman saya, “Yah, kalo merasa tidak bisa berbuat apa-apa, minimal kita sadar dan mempertahankan kesadaran itu”. Tidak hanya sadar ketika kita menjadi penonton seperti sekarang ini. Tapi juga tetap sadar ketika suatu saat tiba giliran kita sebagai pelaku, pemeran lakon kepemimpinan negeri ini. Karena suatu saat kitalah yang melanjutkannya. Kita para pemuda. Jangan sampai kita tidak ada bedanya dengan orang-orang tua yang sempat kita hujat itu.

Jadi teringat lagi dengan salah satu dialog di buku Negeri van Oranje saat Daus ditanyai oleh teman-temannya mengapa dia memilih jadi PNS dan bisa bertahan dengan birokrasi Indonesia yang pelik. Waktu itu Daus menjawab, “Yah, saya tau birokrasi di Indonesia memang pelik. Tapi kalau kita semua hanya bisa protes dan memilih keluar dari sistem, siapa yang akan mengubah semua itu? Kita tidak akan bisa mengubah apapun dari luar. Jadi mau tidak mau, harus bertahan dulu sampai pada posisi pemegang kebijakan”*maaf redaksi aslinya mungkin sedikit berbeda*. Dan kata-kata ini benar. Jika kita ingin melakukan perubahan, tidak cukup hanya dengan protes, tapi perbuatan yang nyata.

Tuhan, hari ini saya benar-benar tidak punya apa-apa dan tidak tahu harus berbuat apa. Saya hanya bisa menangis ketika mendengar semua musibah itu. Saya hanya bisa menuliskan sederet kata-kata yang tidak berarti ini. Mengajak saudara-saudara saya melantunkan doa untuk negeri ini.

Ampuni kami, ampuni kami Tuhan…
Jangan tampakkan kemurkaanMu pada kami
Jadikan kami hamba yang bersyukur,
Ingatkan kami ketika lupa
Berikan kami kekuatan untuk bangkit dari segala keterpurukan ini.
Dan tuntun kami untuk tetap melangkah di jalanMu
Untuk berbuat sebanyak-banyaknya bagi negeri kami,
Untuk Indonesia yang lebih baik…
Amin.

Dan akhirnya sekali lagi, selamat Hari Listrik Nasional. Selamat Hari Blogger Indonesia. Dan selamat hari Sumpah Pemuda,
Pray, for a better Indonesia….