Datang Tanpa Angpau

Sudah dua bulan tidak update apapun di sini. Bulan Maret yang biasanya penuh cerita pun terlewatkan. Padahal seperti Maret sebelumnya, tahun ini ada banyak kisah yang harusnya saya dokumentasikan di blog ini. Biasalah, penyakit malas akut kambuh lagi. Mana pula koneksi wifi yang lagi ngadat gara-gara habis disambar petir beberapa minggu lalu. Well, I miss this blog a lot. Tidak sengaja membuka halaman blog Anging Mammiri, ternyata ada challenge #8MingguNgeblog di  sana. Tantangan inilah yang membuat saya ingin kembali mencoba menulis setelah dua bulan vakum, siapa tau saya bisa belajar konsisten menulis. Meski sudah hampir deadline untuk minggu I, mudah-mudahan postingan yang niatnya saya ikutkan untuk #8MingguNgeblog Minggu pertama  ini masih terhitung oleh juri.

Jadi ceritanya, tadi siang sehabis Dhuhur saya dapat undangan makan gratis  zikir bersama dalam rangka 100 hari wafatnya Almarhum tetangga depan rumah. Sebenarnya saya sendiri tidak biasa menghadiri acara-acara seperti itu, bahkan sejak saya masih di Makassar.  Tapi karena gak enakan sama yang mengundang dan ibu kos yang sampai berkali-kali mengingatkan, akhirnya saya datang juga ke TKP. Beruntung ada Rivha yang kebetulan nginap di rumah semalam dan berhasil saya seret ajak untuk menemani. Ini adalah pengalaman pertama saya menghadiri acara 100 hari peringatan kematian seseorang, lagipula saya tidak begitu akrab dengan banyak tetangga. Jadinya kehadiran Rivha sangat berguna untuk teman ngobrol, biar ga keliatan bodoh bengong sendiri, hehehe.

Sesampainya di sana, sudah banyak tamu dan tetangga yang hadir. Saya dan Rivha langsung saja mengambil tempat duduk di bawah tenda. Di tengah-tengah tenda sudah ada dua meja panjang berisi beraneka ragam makanan khas Manado. Dari cerita ibu kos, setiap kali ada hajat seperti itu di Manado, pasti ada makan-makan besar-besaran. Bahkan kali ini yang punya hajat sampai potong kambing segala, belum lagi puluhan ekor ayam dan bebek, Wow…di pikiran saya sebelumnya,  acara seperti ini hanya sekedar ngaji dan zikir, ternyata semacam pesta besar-besaran ya…

Acara dimulai dengan pembukaan berupa ucapan terima kasih dari pihak keluarga, lalu masuk ke sesi zikir bersama yang dipandu langsung oleh Imam mesjid. Zikirnya tidak begitu lama, hanya sekitar 15 menitan. Setelah imam membacakan doa penutup, acara pun dilanjutkan dengan sesi inti…makan-makan. Dengan serentak, para tamu langsung menyerbu hidangan yang ada. Saya dan Rivha? Kami asik mengamati kelakuan orang-orang di tempat itu. Kami dari awal memang tidak berniat makan, selain karena masih kenyang habis ngemil ubi goreng sejam yang lalu, kami juga tidak terbiasa makan di acara kematian. Entahlah, bagi kami aneh saja rasanya makan lahap dalam rangka wafatnya seseorang.

Setelah puas makan, bahkan setelah itu banyak juga yang ngebungkus, satu persatu tamu menyalami yang punya hajat dan pamit pulang. Awalnya kami berniat ikut antri buat salaman. Tapi setelah diamati baik-baik, ternyata oh ternyata…orang orang pada salaman pake lapisan alias ngasih angpau! Mati saya, mana saya tahu kalau adatnya di sini pake angpau segala. Kami berdua ke sana cuma bawa badan, bahkan selembar duit pecahan terkecil pun tidak ada. Bagaimana mau ngasih angpau? Pulang ke rumah dulu trus balik lagi juga ga mungkin. Akhirnya kami memanfaatkan suasana yang sedang rame-ramenya untuk segera kabur dari situ..hahaha.

Sesampai di rumah kami berdua ga berhenti ngakak. Hampir saja sok-sok sopan pamitan ke tuan rumah tapi malah malu-maluin diri sendiri. Untungnya tidak ada yang nyadar sewaktu kami kabur dari sana. Ga kebayang  deh malunya, apalagi buat saya yang tiap hari pulang-pergi kantor lewat di depan rumah itu. Dan kami bersyukur tadi di sana ga makan apa-apa, hampir saja kami berutang makanan, hahaha.

Pelajaran moralnya, sebelum datang ke acara-acara yang adatnya berbeda dengan kita, ada baiknya cari tau dulu bagaimana kebiasaan di daerah itu, daripada ujung-ujungnya malu-maluin 😀

*Gambar dari sini*