Buah Kesabaran

Namanya Pak Hendri*nama disamarkan*, salah seorang staf senior di kantor saya. Beliau bisa dikatakan orang yang sangat berdedikasi terhadap pekerjaannya . Telah mengabdi lebih dari dua puluh tahun, beliau tidak gila hormat dan tidak segan bergaul dengan staf-staf junior, termasuk saya–angkatan yang paling bontot di kantor. Cerdas, tidak pelit ilmu, suka bergaul dengan siapa saja, dan rendah hati, itu yang bisa saya gambarkan tentang beliau. Layaknya sosok Bapak bagi staf-staf muda di kantor*yang gersang keteladanan*.

Ketika terjadi pergantian kepemimpinan di kantor awal tahun lalu, kami pikir beliaulah yang akan mengisi posisi salah satu Kepala Seksi yang sedang kosong. Dilihat dari dedikasi, lama mengabdi, jiwa kepemimpinan, beliau jelas memenuhi syarat. Tidak ada pegawai lain di kantor ini yang lebih pantas menduduki jabatan tersebut selain beliau. Sebagai staf senior, tentu beliau juga punya harapan yang sama, pegawai mana yang pengen jadi staf seumur hidup? Manusia mana yang mau stuck di posisi yang sama, setidaknya naik satu anak tanggalah.

Kami pun menunggu berita pelantikan para pejabat baru dengan rasa penasaran. Hingga kasak-kusuk mencari bocoran berita ke mana-mana. Ketika akhirnya undangan pelantikan pejabat baru itu tiba, ternyata beliau tidak termasuk dalam daftar pejabat yang akan dilantik. Dan ternyata, yang akan mengisi posisi kosong di kantor adalah seorang staf senior dari UPT Gorontalo, teman dekat beliau juga. Dengan berbesar hati, Pak Hendri menerima hal tersebut. Tak ada sedikitpun rasa iri dan cemburu yang ditampakkan oleh beliau. Mungkin memang belum waktunya, pikir kami.

Kemudian September lalu, terdengar lagi kasak-kusuk mengenai pelantikan pejabat baru. Katanya akan ada pergantian pejabat di lingkungan kementerian kami sekali lagi. Ternyata beberapa hari sebelum hari-H, Pak Hendri termasuk salah seorang yang mendapat SMS undangan pelantikan. Padahal waktu itu beliau sedang berada di Singapore dalam rangka training di Agilent. Sesegera mungkin, Pak Hendri kembali ke tanah air memenuhi panggilan. Dan seperti biasa, setiap ada kabar pelantikan, kami staf-staf pasti sibuk nyari bocoran mengenai siapa yang akan mengisi posisi apa.Terutama tentang Pak Hendri. Dengar-dengar, beliau bakal jadi kepala seksi di Makassar. Sampai akhirnya hari pelantikan itu tiba, barulah kami mendapat berita yang pasti. Pak Hendri dipromosikan untuk menjabat sebagai Kepala UPT di Gorontalo. Langsung melesat dari posisi staf ke Kepala Kantor. Subhanallah…

Antara tidak percaya, takjub dan bangga. Benar ya, yang namanya rejeki itu nggak akan lari ke mana. Pak Hendri yang mungkin dulu sempat kecewa karena harapannya yg tidak terkabul, justru dijawab doanya oleh Allah dengan yang jauh lebih baik. God works in mysterious way. Kita tidak pernah tahu rencanaNya.

So once more, I see with my own eyes…Tuhan tidak selalu memberi apa yang kita inginkan, justru kadang memberi yang jauh lebih baik. Karena Dia lebih tahu apa yang sebenarnya kita butuhkan. Mungkin itulah mengapa  kita ditekankan untuk terus bersabar. Karena Tuhan tidak buta, Ia pasti melihat segala usaha kita. Setiap tetes air mata, setiap kucuran keringat, tidak akan sia-sia. Tuhan pasti melihatnya. Tuhan tau, tapi menunggu…

Jadi, jika merasa sudah berusaha dengan maksimal, berdoa siang dan malam, bersabarlah…Yakin, Allah tidak akan pernah mengecewakanmu 🙂