Antara Dua Kota….

Tidak terasa sudah minggu keenam. Alhamdulillah, sejauh ini tetap konsisten menulis setiap minggu, meski selalu submit tulisan di hari terakhir :D. Pengen sih, sekali-sekali bisa menulis di awal minggu. Pengen juga rasanya  bisa posting lebih dari sekali seperti K’ Mugniar dan Mbak Rohani yang ada di puncak klasemen sementara. Tapi kesibukan dan seringkali rasa malas datang menghalangi. Namun saya sadar bahwa semua alasan itu sebenarnya hanyalah excuse dari rasa malas. Selama ada niat, harusnya selalu ada waktu untuk menulis. Buktinya selama lima minggu kemarin, tidak peduli sesempit apapun waktu yang tersisa, saya selalu bisa menyelesaikan tulisan sebelum deadline. Mungkin karena merasa terikat dengan suatu komitmen. Terima kasih kepada Anging Mammiri yang telah mengadakan tantangan 8 Minggu Ngeblog ini, karenanya, saya berusaha kembali komit untuk menulis lagi.  Adapun postingan ini diikutkan dalam #8MingguNgeblog bersama Anging Mammiri, minggu keenam.

***********

“Asik ya, sering-sering terbang naik pesawat.” Entah sudah beberapa kali saya mendengar pernyataan seperti ini dari orang-orang di sekitar saya. Atau komentar seperti, “Ini Mimi nakasi jadi kayak pete-pete mami pesawatka…” (baca : Mimi ini udah nganggap pesawat kayak angkot saja), saking seringnya saya bolak-balik Manado-Makassar selama setahun terakhir demi menemui suami yang bekerja dan bermukim di kota itu. Yah, kami adalah salah satu penganut aliran LDMiyah (LDM : Long Distance Marriage).

Sumber : http://survivinglongdistance.files.wordpress.com
Sumber : http://survivinglongdistance.files.wordpress.com

Saya mengenal suami ketika baru seminggu menginjakkan kaki di Manado. Kami pertama kali berinteraksi lewat Plurk, kemudian kami mulai akrab dan sering chating lewat YM. Sampai akhirnya, dia memberanikan diri menelpon saya setelah mendapatkan nomor telepon saya dari teman. Dari awal kedekatan kami hingga dia memutuskan untuk serius dan melamar 8 bulan setelahnya, saya sudah menegaskan posisi saya sebagai PNS salah satu instansi pusat. Saya terikat oleh pernyataan bersedia ditempatkan di mana saja di seluruh Indonesia, yang telah saya tandatangani pada saat pendaftaran ulang CPNS dulu. Apalagi saya waktu itu belum cukup setahun menjadi pegawai, tentu tidak mungkin bisa mengajukan permohonan untuk pindah dalam waktu dekat. Dengan demikian, suami (yang waktu itu masih berstatus calon suami) mengerti betul apa yang harus kami hadapi setelah menikah nantinya.

Namun dengan segala tantangan yang harus dilalui, kami memantapkan hati untuk menikah di bulan Desember 2011. Seminggu setelah hari pernikahan, masa cuti saya habis. Suami yang dapat jatah cuti sedikit lebih banyak mengantar kembali ke Manado, kota tempat saya bertugas. Tiga hari bersama, lalu dia pun kembali ke tempat kerjanya, waktu itu dia masih bekerja di Sorowako.  Setelah itu, kami berusaha menjalani kehidupan pernikahan jarak jauh antara Sorowako-Manado. Setiap hari berkomunikasi lewat telepon, dan paling tidak sebulan sekali bertemu di Makassar.

Tentu tidak mudah bagi pasangan baru seperti kami mesti hidup terpisah ribuan kilometer jaraknya. Kebutuhan setelah menikah itu beda, ada rasa ketergantungan satu sama lain antara sepasang suami-istri. Ada semacam kekosongan yang tidak bisa diisi oleh orang lain ketika salah satunya tidak ada. Jujur saja, selama hidup saya, baru kali ini saya merasa begitu bergantung pada seseorang, seolah hidup saya tidak berarti lagi tanpa kehadirannya. Saya sudah terbiasa mandiri dan mengandalkan diri sendiri sejak dijebloskan di pesantren setamat SD hingga kuliah dan sarjana. Tapi setelah menikah, saya tidak ada bedanya dengan perempuan lain yang membutuhkan suami sebagai pelindung dan tempat saya bersandar.  Demikian halnya suami, tentu juga membutuhkan kehadiran istri untuk mendampinginya.

Kini genap 1 tahun 5 bulan pernikahan kami, alhamdulillah, saya mendapatkan seorang lelaki yang begitu baik dan pengertian. Kami selalu berusaha menjalin komunikasi dengan intens, meski hanya lewat telepon, dan menjaga kepercayaan satu sama lain. Insya Allah, saya tidak perlu meragukan kesetiaan suami. Beruntungnya, sejak Maret tahun lalu, suami sudah pindah kerja ke Makassar. Meski belum bisa hidup seatap, setidaknya lebih memudahkan bagi kami untuk bertemu. Kami bisa bergantian mengunjungi satu sama lain. Ketika long weekend, cuti, atau lagi dinas ke Makassar, sayalah yang menemui suami. Sebaliknya, jika suami ada kesempatan, dialah yang berkunjung ke Manado. Meski cuma dua tiga hari, lumayan untuk mengobati rasa kangen. Saking semangatnya menantikan hari-hari pertemuan dengan suami, saya jadi hapal letak tanggal merah di kalender. Semua long weekend, hari terjepit, dan hari-hari cuti bersama, sudah saya hapal di luar kepala. Saya juga sering memonitor website beberapa maskapai penerbangan demi hunting tiket murah. Sampai-sampai teman-teman di kantor menjuluki saya Agen Travel Berjalan, hehehe.

Tentu, ada kalanya saya merasa begitu jenuh, hidup di antara dua kota seperti ini begitu melelahkan. Bukannya asik atau kelihatan hebat karena  sering naik pesawat seperti komentar beberapa orang yang saya ceritakan sebelumnya. Tidak ada yang patut dibanggakan dari hal itu. Seringkali, saya bertanya ke diri sendiri, apa sebenarnya yang saya inginkan dalam hidup ini? Apa sebenarnya yang saya cari di tempat ini, hingga jauh-jauh meninggalkan suami sendirian? Apakah semua pengorbanan ini sebanding dengan yang saya dapatkan?

Kalau sudah begini, tidak jarang terlintas keinginan untuk resign saja dari kerjaan dan pulang ke sisi suami. Saya masih muda, masih bisa mendapatkan pekerjaan lain, atau mungkin bisa melanjutkan pendidikan ke pascasarjana sambil mencari kesempatan mengajar di PTS-PTS di Makassar. Atau sekalian saja menjadi ibu rumah tangga biar bisa total mengurus keluarga. Saya malah sudah beberapa kali mengutarakan keinginan itu ke suami, dan mencoba menyampaikannya pelan-pelan ke orangtua. Namun mereka tidak memberikan respon positif terhadap rencana saya ini.

Well,  saya pun sadar kalau saya tidak bisa menyerah begitu saja. Di satu sisi memang terasa berat harus hidup berjauhan dengan suami, namun di sisi lain saya punya amanah dan tanggung jawab yang harus saya tunaikan. Tentu bukan kebetulan Allah memberi saya rejeki untuk bekerja di posisi saya sekarang, mungkin ini sebuah ujian. Terlebih setelah Bapak sakit keras tiga bulan terakhir. Saya jadi sadar, bahwa saya bekerja bukan untuk diri saya sendiri, tapi juga untuk orang lain, terutama kedua orangtua yang telah bersusah payah hingga saya bisa seperti sekarang ini. Dengan bekerja, saya bisa memberikan kebahagiaan buat mereka, meski tidak mungkin mampu membalas semua yang mereka berikan selama ini

Sepertinya kami memang masih harus bersabar, mengingat usaha kami untuk berkumpul di satu kota masih belum ada titik terang. Mungkin kami masih diberi kesempatan untuk saling mengenal lebih dalam lagi, mengingat masa perkenalan kami sebelum menikah yang cukup singkat. Atau mungkin Tuhan sengaja merencanakan ini untuk membuat cinta kami lebih kuat dan teruji. Seperti kata suami yang selalu menjadi sumber kekuatan saya :

“Setiap pasangan pasti diberikan ujian oleh Allah, tidak ada pernikahan yang jalannya  mulus dan sempurna. Cuma bentuk ujiannya itu berbeda-beda. Ada yang diuji dengan masalah ekonomi, ada yang diuji soal kesetiaan, dan sebagainya. Mungkin jarak inillah ujian bagi kita berdua, supaya kita saling menguatkan. Yang bisa kita lakukan adalah bersabar dan berdoa. Kita juga harus senantiasa bersyukur, karena boleh jadi banyak pasangan yang diberikan cobaan yang lebih berat dari kita. Insya Allah, kelak Dia membukakan jalan untuk kita berkumpul kembali di saat yang tepat.”

Ah, dia memang selalu bisa menenangkan saya. Semoga, hari itu tidak akan lama lagi. Semoga Allah selalu melimpahkan kesabaran bagi kami. Bukankah semua ada waktunya? Yang bisa kita lakukan hanya berusaha dan tetap melantunkan doa untuk mewujudkan harapan-harapan kita. Allah tahu, tapi menunggu 🙂

Sumber : http://redcoatstudio.co.uk
Sumber : http://redcoatstudio.co.uk