23 Episentrum

Buku ini adalah novel kedua karya Adenita.  Di buku pertamanya, Adenita bercerita tentang perjalanan Matari, seorang gadis dari keluarga kurang mampu yang berjuang untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Matari harus berjuang keras demi keinginannya tersebut, hingga nekat mengutang dalam jumlah besar ke banyak orang demi bisa kuliah. Tema dan nilai ceritanya bagus, sayangnya alur dan bahasanya yang agak membingungkan membuat saya kurang menyukai buku 9 Matahari ini. Alasan itu pula yang awalnya membuat saya enggan membeli dan membaca novel keduanya. Tapi atas rekomendasi beberapa orang teman, akhirnya saya membeli buku ini. Walaupun sempat nongkrong berbulan-bulan di rak buku, sampai akhirnya dibaca :D.

2 in 1 book…

Buku ini terbagi menjadi dua bagian yang masing-masing dijilid terpisah; “23 Episentrum, Perjalanan Mata, hari, dan Hati” dan “Suplemen 23 Episentrum”.

23 Episentrum, Perjalanan Mata, Hari, dan Hati bercerita tentang kisah tiga anak manusia dalam mengejar mimpinya. Matari yang baru lulus kuliah dan diterima sebagai reporter di salah satu stasiun televisi berita; Awan, karyawan bank dengan masa depan cerah tapi punya passion jadi tukang cerita; dan Prama, pegawai perusahaan tambang multinasional dengan penghasilan ribuan dollar per bulan.

Matari sendiri adalah tokoh di novel 9 Matahari. Setelah lulus kuliah dan jadi reporter, Matari berjuang keras demi satu tujuan: melunasi utang-utangnya kepada 23 orang yang telah memberikannya pinjaman biaya kuliah. Dia rela berhemat, bahkan masih mencari penghasilan tambahan di tengah kesibukannya sebagai seorang reporter demi mencapai tujuan itu. Awan, sahabat Matari, adalah salah satu karyawan terbaik di Bank Madani. Namun, dia merasa hatinya tidak berada di sana. Dia terus merasa gelisah dan dihantui oleh keinginan untuk menjadi tukang cerita, bekerja di dunia perfilman, menjadi penulis skenario, itulah mimpinya. Sebuah folder bernama Episentrum yang tersimpan rapi di laptopnya berisi naskah cerita yang dibuatnya, menjadi sumber gempa maha dahsyat yang selalu menggetarkan jiwanya. Hanya saja, perannya sebagai tulang punggung keluarga menggantikan almarhum ayahnya tidak dapat dia abaikan begitu saja. Sedangkan Prama, yang masih sahabat baik Awan, adalah anak muda sukses, mapan dan tampan, tapi belum juga menemukan seorang wanita yang bisa menyejukkan hatinya. Demi menepis rasa gelisahnya akan sesuatu yang ia cari, ia melakukan perjalanan yang dia sebut “Perjalanan hati”. Dalam perjalanan itulah, kisahnya bersilangan dengan seorang Matari.

To find your passion and fight for it.  Temukan mimpimu, dan hiduplah untuk mimpi itu. Setelah mendapatkannya, hidupkan mimpi orang lain di sekitarmu. Itulah pesan moral yang utama dari buku ini. Dengan karakter yang cukup kuat, semangat yang menggebu, Adenita berusaha memotivasi pembacanya lewat novel ini. Alur dan cara bertuturnya pun jauh lebih baik dari novel sebelumnya. Tidak rugi rasanya membeli dan membaca buku ini.

Tambahan “Suplemen 23 Episentrum” berisi kisah nyata dari 23 anak muda yang menjalani hidup sesuai dengan passionnya. Dua puluh tiga anak manusia yang berprestasi dan penuh inspirasi di bidangnya masing-masing. Mereka patut diacungi jempol untuk kegigihan dan ketekunan mencapai cita-cita, meski tak jarang mereka harus terjatuh dan tertatih. Mereka percaya bahwa bekerja dengan hati akan menghasilkan sesuatu yang lebih besar dari sekedar materi. Salut deh!

Overall, it’s a recommended book. Terutama buat mereka yang baru lulus kuliah dan tengah mengejar passionnya. Penuh inspirasi dan motivasi. Lagi-lagi, rasanya bikin pengen resign dari kerjaan, hahaha.

Demikian review saya kali ini. Karena sekarang sudah dekat akhir bulan, dan saya baru review satu buku, sepertinya harus balapan baca buku dan bikin review, bisa bisa saya kalah telak di project #bacaituseru yang saya ikuti mulai bulan ini, hehe..Wish me luck ya!