2015 part 2- Hamil *lagi*

Ada yang aneh dengan tubuh saya. Sudah beberapa hari ini saya merasa mual-mual seperti masuk angin. Awalnya saya menyangka ini adalah efek kopi herbal yang saya konsumsi beberapa hari ini. Kata kakak dan suami, kopi ini bagus buat pencernaan. Konon di awal-awal memang ada proses detoksifikasi dulu, jadi kalau ada kembung-kembung atau mual itu wajar. Tapi lama kelamaan saya jadi ragu, makin hari mual-mualnya makin hebat, kayak masuk angin parah. Sudah habis hampir sebotol minyak kayu putih, sudah dipijat-pijat Ayah, tetap saja ga ada efek. Akhirnya, kepikiran buat minta tolong beli testpack. Dan, eng ing eng…hasilnya dua garis!!!

Senang, kaget, bingung, semua bercampur dalam benak. Bukannya tidak mengharapkan kabar bahagia ini. Tapi mengingat Alya yang masih 13 bulan dan masih ASI, saya jadi kepikiran. Bagaimana nasib anak ini ke depannya? Dan yang bikin bingung, kok bisa? Walaupun saya dan suami memang tidak menggunakan kontrasepsi apapun, tapi sejak saya habis nifas, belum pernah menstruasi sama sekali selama 13 bulan ini. Dan sekarang, tau-tau hamil saja gitu?Akhirnya kami memutuskan untuk ngecek ke dokter. Pas USG, janinnya diprediksi sudah 6 minggu. Saya pun bertanya ke dokter, bagaimana ini bisa terjadi padahal saya tidak pernah menstruasi selama menyusui, bukannya menyusui itu kontrasepsi alami? Trus, kalau blum mens kan berarti belum subur? Kok bisa jadi? Si dokter malah ketawa. Ternyata, walaupun tidak ditandai dengan datangnya menstruasi, begitu masuk masa MPASI, kesuburan kita pelan-pelan kembali, begitu penjelasan bu Dokternya.

Mungkin kemarin memang terlalu kepedean, karena ga pernah dapet, jadi yakin semuanya aman. Jujur saya juga takut KB, lihat pengalaman beberapa teman yang KB setelah melahirkan anak pertama, pas mau program anak kedua malah jadi susah dan butuh waktu bertahun-tahun. Belum lagi dengar-dengar dan baca-baca efek KB yang bermacam-macam, mulai dari menstruasi yang jadi tidak teratur, kegemukan, ASI seret, dll. Makanya kami memutuskan untuk tidak berKB dulu. Tapi begitu tau kalau saya hamil lagi, saya jadi shock juga. Ya Allah, secepat ini Engkau menitipkan amanah lagi kepada kami? Alya masih sangat butuh perhatian dan kasih saykang, dia masih terlalu kecil untuk berbagi semua itu dengan seorang adik. Saya sempat merasa bersalah pada Alya. Sampai  akhirnya saya sadar, mau tidak mau, saya harus menerima kenyataan  ini dengan lapang dada. Ini rejeki dari Allah, , tidak sedikit orang yang berjuang mati-matian demi mendapatkan amanah ini.

Dan penderitaan di trimester pertama pun dimulai. Tidak terlalu berbeda dengan hamil sebelumnya, kali ini juga saya mengalami hyper emesis alias muntah-muntah yang berlebihan. Walaupun kata orang masih lebih parah waktu hamil Alya, tetap saja menjalaninya berat. Yang bikin galau, adalah harus menyapih dini Alya yang baru 13 bulan. Kondisi saya yang lemah karena tidak bisa makan sama sekali, ditambah muntah-muntah, membuat ASI saya semakin berkurang. Alya jadi rewel karena tidak puas nyusu. Akhirnya suami mengantar saya pulang ke rumah Mama, untuk istirahat dan membantu proses penyapihan.

Untuk pertama kalinya saya harus pisah ranjang dengan Alya, hiks…sedihnya, sampai mewek-mewek tiap kali dengar dia nangis nyari Bundanya. Mau tidak mau, kami pun harus memberi Alya susu formula. Bagian yang tersulit adalah membuat Alya mau minum susu, berhubung sejak bayi dia tidak suka ngedot. Sudah dicoba dengan berbagai macam media lain, mulai dari sendok, gelas, pipet, spout, semua ditolak. Kalaupun diminum, paling banyak habis 50 ml saja. Merek susunya pun sudah diganti beberapa kali, dari A-Z, tetap saja tidak berhasil. Mana sufor itu mihil…hiks. Sayang saja, susunya terbuang-buang. Saran dari beberapa teman untuk mencoba susu UHT pun saya lakonin, tapi ternyata sama saja, Alya ga suka UHT yang plain. Dia sukanya yang cokelat, tapi malah diare setiap habis minum susu cokelat. Saya sempat menyerah, akhirnya untuk sementara Alya cuma minum air putih dan digenjot di MPASInya. Syukurnya makannya selalu lahap, walaupun badannya gitu-gitu aja. Dibanding derita karena hyper emesis, proses penyapihan inilah yang lebih banyak menguras air mata, tenaga, dan pikiran.

Masuk trimester kedua, semuanya jadi lebih ringan. Makan sudah mulai lahap(bahkan kadang-kadang over, hihihi) Alya juga sudah mulai bersahabat dan mulai mengerti bahwa di perut Bunda ada seorang adik. Dia sudah tidak pernah minta gendong Bunda lagi. Tiap kali lihat perut Bunda yang makin membesar, suka dielus-elus sambil ngomong “Adek…”.  Malah kalau mau tidur, mesti ‘main’ dengan adiknya dulu. Pertengahan trimester kedua ini jauh lebih baik, alhamdulillah  juga, bisa puasa sebulan penuh pas Ramadhan. Walaupun suka pegal-pegal dan lebih cepat lelah daripada hamil sebelumnya.

Mungkin karena ini hamil kedua, yah…namanya manusia kalau sudah punya pengalaman kadang suka sok tahu.  Waktu hamil pertama saya dan suami over protektif banget, mungkin karena saya juga pernah keguguran sebelumnya,  hamil kedua ini saya jadinya lebih cuek dan cenderung malas. Minum vitaminnya tidak rutin, ga minum susu hamil sama sekali, sering jajan, tetap makan pedas. Pokoknya selama saya merasa itu tidak berbahaya, saya tidak berpantang sama sekali. Saya pun tetap mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri, mulai dari nyapu, ngepel, nyuci, nyetrika, masak, dll. Meski jadinya sering encok dan ujung-ujungnya minta dipijitin suami, xixixi. Hanya saja, hamil kedua ini, entah kenapa jadi susah tidur. Waktu hamil Alya dulu malah kebo banget. Hamil kedua ini jarang tidur siang, dan malamnya suka terbangun dan susah tidur lagi. Perasaan juga suka kedinginan dan masuk angin, bukannya kegerahan seperti waktu Alya dulu. Alhamdulillah, tidak pernah ada masalah yang serius dengan kehamilan ini.

Masuk trimester ketiga, ternyata berat badan saya naiknya tidak begitu banyak. Kalau waktu Alya dulu, akhir trimester dua saja sudah bengkak di mana-mana. Kali ini perut saya saja yang makin membuncit.  Banyak yang meramalkan kalau bayinya cowok, melihat dari bentuk perut. Tapi ternyata hasil USGnya cewek lagi. Walaupun sedikit kecewa karena berharap benar-benar bakal dapat anak cowok, tapi gapapa, yang penting bayinya sehat dan lahirnya lancar. Alhamdulillah, setiap kali kontrol ke dokter semuanya normal dan baik-baik saja. Saya bahkan masih sempat ikut dua acara reunian di minggu-minggu terakhir, meski dengan perut buncit. Masuk bulan ke-9, hasil USG posisi bayinya sungsang, dokter menyarankan buat banyak-banyak nungging dan jalan jongkok. saya pun nurut, perbanyak sujud, jalan jongkok tiap pagi, ngepel ala inem, dan terus ajak dedenya berkomunikasi biar dia mau muter. Alhamdulillah, begitu dekat HPL, dedenya sudah di posisi siap lahir normal.

Masuk minggu ke-38, perut mulai suka mules-mules dan terasa kencang. Suka muncul kontraksi yang timbul tenggelam. Sampai seminggu, kontraksi yang sebenarnya belum muncul-muncul, padahal saya sudah mulai merasa sakit di miss V dan kesusahan untuk jalan. Akhirnya kami memutuskan untuk konsultasi ke dokter lagi. Sesampainya di dokter, disarankan untuk induksi, berhubung kontraksi belum muncul juga. Saya pun setuju. Dan hanya dalam beberapa jam, saya akhirnya merasakan kontraksi yang sebenarnya. Hanya berdua dengan suami, saya berangkat ke Rumah Sakit. Ternyata sudah pembukaan 5, kata bidannya. Kontraksi pun semakin sering terasa, dan tidak lama diikuti dengan pecah ketuban. Tidak sampai sejam sejak tiba di rumah sakit, bayi saya pun lahir. Alhamdulillah…semuanya lancar, selamat dan sehat.

*****

Begitulah kurang lebih yang saya alami selama sembilan bulan hamil Rara. Ternyata benar kata orang, setiap kehamilan itu unik. Bahkan bayi yang lahir dari satu rahim yang sama pun semuanya punya kisah yang berbeda saat dikandung. Meski secara garis besarnya, gejala yang dirasakan si Ibu sama. Tapi setiap pengalaman kehamilan selalu punya cerita tersendiri. Semoga kita bisa lebih mnghargai perjuangan Ibu kita yang telah susah payah mengandung, melahirkan dan membesarkan kita.