Barongko Ala Mama

DSC_0255

Selain terkenal dengan makanan berkuah yang menjadi tujuan wisata kuliner, Makassar juga terkenal dengan penganan dan kue tradisionalnya yang manis-manis. Beberapa di antaranya terbuat dari pisang, sebut saja pisang ijo, pallu butung, dan pisang epe’. Selain ketiga penganan pisang yang paling terkenal itu, juga ada kue tradisional yang namanya Barongko. Kue ini terbuat dari pisang kepok matang yang dicampur gula, santan dan telur, lalu dibungkus dengan daun pisang dan dikukus. Kue ini bisa dibilang favorit dan selalu dicari di setiap acara pernikahan Bugis-Makassar. Terutama di keluarga saya. Setiap ada acara-acara besar seperti pernikahan, aqiqah, atau bahkan hanya arisan, pasti Barongkonya tidak ketinggalan. Saking seringnya bikin barongko, nama mama sudah identik dengan Barongko bagi keluarga dan teman-teman saya.

Barongko buatan mama memang khas dan rasanya pas. Beberapa orang yang sudah sering mencicipinya bahkan jadi fans garis keras, tidak mau makan Barongko lain selain buatan mama. Saya jadi sering ditanyai apa rahasia resep Barongko Mama sampai bisa seenak itu. Jadinya, kepikiran buat sekalian nulis resepnya di sini, biar lain kali lebih gampang sharing resepnya kalau ada yang minta lagi, hitung-hitung promosi blog, hehehe

So, here is the recipe :

(takarannya bisa menggunakan wadah apa saja, bisa gelas, cup, mangkuk, dll yang penting konsisten pake satu wadah yang sama)

BAHAN :

2 takaran pisang kepok matang (pisang yang sudah dikupas, buang bagian tengahnya yg berwarna hitam, benyek-benyek dengan sendok atau gelas lalu ditakar)
3 takaran santan
1 takaran gula pasir(sesuaikan dengan kematangan pisang, kalau terlalu matang bisa dikurangi dikit)
1 takaran telur
Vanili bubuk secukupnya
Garam sejumput
Pewarna kuning telur (bisa diskip)

Caranya :
1. Didihkan santan, beri sejumput kecil garam, sisihkan
2. Kocok telur dan gula hingga gula larut, bisa pakai whisk atau mixer kecepatan rendah
3. Blender pisang bersama sebagian santan, jangan terlalu halus agar tekstur pisangnya masih terasa
3. Campur kocokan telur dan pisang yg sudah diblender, aduk rata.
4. masukkan sisa santan, tambahkan vanili bubuk dan pewarna kuning
5. Bungkus dg daun pisang atau tuang ke loyang, kukus hingga matang atau daun berwarna cokelat

PS: kalau pakai loyang, sebaiknya kurangi santannya setengah sampai satu takaran, biar ga hancur pas disendok

Selamat Mencoba!

Januari

Ini adalah tulisan pertama saya di tahun ini. Tak terasa sudah hari kesembilan di bulan Januari 2016. Time flies. Sudah sejak awal tahun mau nulis, tapi belakangan lagi keasikan sama hobi baru, merajut?Jadinya makin malas buka laptop. Ini aja nulisnya pake hape.

Ngomong-ngomong soal hape, awal tahun dapat surprise hape baru dari kakak suami. Hihihi, tumben-tumbenan doi pake acara bikin surprise segala. Sebenarnya sudah terbaca sih, waktu dia tanya-tanya soal hape, tapi tetap senang dikasih hadiah sama suami tercinta. Berhubung hape lama yang suka error akhir-akhir ini suka bikin senewen. Sekali lagi, makasih ya sayang…*kiskiss

Karena sudah punya hape baru, akhirnya bisa instal aplikasi WordPress lagi. Lumayan buat ngecek-ngecek blog sama nyimpan ide di draft. Kalau mau posting pendek-pendek kayak gini boleh juga sih. Kalau panjangan mending di laptop deh, soalnya jari bisa kram. Keyboard hape yang kecil juga bikin ga nyaman ngetiknya.

Kembali lagi soal tahun baru. Biasanya di tahun baru, orang suka bikin target-target yang ingin dicapai di tahun ini. Dan untuk pertama kalinya, saya sampai sejauh ini belum mikir target apa-apa. Entahlah, bukannya sombong, tapi kalau soal materi, alhamdulillah saya sudah merasa bersyukur sekali dengan apa yang saya dan keluarga punya. Kami sudah punya sebuah rumah yg walaupun kecil, tp setidaknya sudah lunas dan ga perlu pusing mikir buat bayar KPR lagi. Kendaraan juga, meski tidak mewah, yang jelas bisa membuat kami sekeluarga terlindung dari terik panas dan kebasahan karena hujan. Sudah bisa bawa ortu bolak balik dari kampung juga, dan yang paling penting, sudah lunas juga. Intinya, kami bisa makan, bebas hutang, dan punya dua putri yang sehat dan lucu-lucu, itu adalah anugerah yang sangat patut disyukuri. Kalaupun ada yang belum tercapai soal materi, mungkin nabung buat naik haji kali ya. Semoga diberi rejeki yang berkah dan kesempatan buat mewujudkan keinginan ini.

Tahun ini, mungkin kebanyakan target yang ingin saya capai lebih ke non materi. Soal memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, nambah ilmu, dan soal perkembangan anak-anak. Tak ada lagi mimpi muluk-muluk ini itu. Sekarang rasanya saya lebih ingin belajar mensyukuri apa yang sudah saya punya dan mengoptimalkan manfaatnya, dibanding terus mengejar hal yang belum saya miliki seperti kemarin-kemarin. Terdengar ga visioner ya, hehehe. Mungkin pengaruh profesi baru sebagai IRT. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, lebih banyak nulis dan baca buku, selalu jadi target.  Apalagi tahun kemarin bisa dibilang rekor membaca dan nulis yang paling sedikit dalam sepuluh tahun ini. Yah…namanya juga harapan. Terwujud atau tidaknya, biar kita lihat nanti. Yang penting adalah selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk mencapainya.

2015 part 2- Hamil *lagi*

Ada yang aneh dengan tubuh saya. Sudah beberapa hari ini saya merasa mual-mual seperti masuk angin. Awalnya saya menyangka ini adalah efek kopi herbal yang saya konsumsi beberapa hari ini. Kata kakak dan suami, kopi ini bagus buat pencernaan. Konon di awal-awal memang ada proses detoksifikasi dulu, jadi kalau ada kembung-kembung atau mual itu wajar. Tapi lama kelamaan saya jadi ragu, makin hari mual-mualnya makin hebat, kayak masuk angin parah. Sudah habis hampir sebotol minyak kayu putih, sudah dipijat-pijat Ayah, tetap saja ga ada efek. Akhirnya, kepikiran buat minta tolong beli testpack. Dan, eng ing eng…hasilnya dua garis!!!

Senang, kaget, bingung, semua bercampur dalam benak. Bukannya tidak mengharapkan kabar bahagia ini. Tapi mengingat Alya yang masih 13 bulan dan masih ASI, saya jadi kepikiran. Bagaimana nasib anak ini ke depannya? Dan yang bikin bingung, kok bisa? Walaupun saya dan suami memang tidak menggunakan kontrasepsi apapun, tapi sejak saya habis nifas, belum pernah menstruasi sama sekali selama 13 bulan ini. Dan sekarang, tau-tau hamil saja gitu?Akhirnya kami memutuskan untuk ngecek ke dokter. Pas USG, janinnya diprediksi sudah 6 minggu. Saya pun bertanya ke dokter, bagaimana ini bisa terjadi padahal saya tidak pernah menstruasi selama menyusui, bukannya menyusui itu kontrasepsi alami? Trus, kalau blum mens kan berarti belum subur? Kok bisa jadi? Si dokter malah ketawa. Ternyata, walaupun tidak ditandai dengan datangnya menstruasi, begitu masuk masa MPASI, kesuburan kita pelan-pelan kembali, begitu penjelasan bu Dokternya.

Mungkin kemarin memang terlalu kepedean, karena ga pernah dapet, jadi yakin semuanya aman. Jujur saya juga takut KB, lihat pengalaman beberapa teman yang KB setelah melahirkan anak pertama, pas mau program anak kedua malah jadi susah dan butuh waktu bertahun-tahun. Belum lagi dengar-dengar dan baca-baca efek KB yang bermacam-macam, mulai dari menstruasi yang jadi tidak teratur, kegemukan, ASI seret, dll. Makanya kami memutuskan untuk tidak berKB dulu. Tapi begitu tau kalau saya hamil lagi, saya jadi shock juga. Ya Allah, secepat ini Engkau menitipkan amanah lagi kepada kami? Alya masih sangat butuh perhatian dan kasih saykang, dia masih terlalu kecil untuk berbagi semua itu dengan seorang adik. Saya sempat merasa bersalah pada Alya. Sampai  akhirnya saya sadar, mau tidak mau, saya harus menerima kenyataan  ini dengan lapang dada. Ini rejeki dari Allah, , tidak sedikit orang yang berjuang mati-matian demi mendapatkan amanah ini.

Dan penderitaan di trimester pertama pun dimulai. Tidak terlalu berbeda dengan hamil sebelumnya, kali ini juga saya mengalami hyper emesis alias muntah-muntah yang berlebihan. Walaupun kata orang masih lebih parah waktu hamil Alya, tetap saja menjalaninya berat. Yang bikin galau, adalah harus menyapih dini Alya yang baru 13 bulan. Kondisi saya yang lemah karena tidak bisa makan sama sekali, ditambah muntah-muntah, membuat ASI saya semakin berkurang. Alya jadi rewel karena tidak puas nyusu. Akhirnya suami mengantar saya pulang ke rumah Mama, untuk istirahat dan membantu proses penyapihan.

Untuk pertama kalinya saya harus pisah ranjang dengan Alya, hiks…sedihnya, sampai mewek-mewek tiap kali dengar dia nangis nyari Bundanya. Mau tidak mau, kami pun harus memberi Alya susu formula. Bagian yang tersulit adalah membuat Alya mau minum susu, berhubung sejak bayi dia tidak suka ngedot. Sudah dicoba dengan berbagai macam media lain, mulai dari sendok, gelas, pipet, spout, semua ditolak. Kalaupun diminum, paling banyak habis 50 ml saja. Merek susunya pun sudah diganti beberapa kali, dari A-Z, tetap saja tidak berhasil. Mana sufor itu mihil…hiks. Sayang saja, susunya terbuang-buang. Saran dari beberapa teman untuk mencoba susu UHT pun saya lakonin, tapi ternyata sama saja, Alya ga suka UHT yang plain. Dia sukanya yang cokelat, tapi malah diare setiap habis minum susu cokelat. Saya sempat menyerah, akhirnya untuk sementara Alya cuma minum air putih dan digenjot di MPASInya. Syukurnya makannya selalu lahap, walaupun badannya gitu-gitu aja. Dibanding derita karena hyper emesis, proses penyapihan inilah yang lebih banyak menguras air mata, tenaga, dan pikiran.

Masuk trimester kedua, semuanya jadi lebih ringan. Makan sudah mulai lahap(bahkan kadang-kadang over, hihihi) Alya juga sudah mulai bersahabat dan mulai mengerti bahwa di perut Bunda ada seorang adik. Dia sudah tidak pernah minta gendong Bunda lagi. Tiap kali lihat perut Bunda yang makin membesar, suka dielus-elus sambil ngomong “Adek…”.  Malah kalau mau tidur, mesti ‘main’ dengan adiknya dulu. Pertengahan trimester kedua ini jauh lebih baik, alhamdulillah  juga, bisa puasa sebulan penuh pas Ramadhan. Walaupun suka pegal-pegal dan lebih cepat lelah daripada hamil sebelumnya.

Mungkin karena ini hamil kedua, yah…namanya manusia kalau sudah punya pengalaman kadang suka sok tahu.  Waktu hamil pertama saya dan suami over protektif banget, mungkin karena saya juga pernah keguguran sebelumnya,  hamil kedua ini saya jadinya lebih cuek dan cenderung malas. Minum vitaminnya tidak rutin, ga minum susu hamil sama sekali, sering jajan, tetap makan pedas. Pokoknya selama saya merasa itu tidak berbahaya, saya tidak berpantang sama sekali. Saya pun tetap mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri, mulai dari nyapu, ngepel, nyuci, nyetrika, masak, dll. Meski jadinya sering encok dan ujung-ujungnya minta dipijitin suami, xixixi. Hanya saja, hamil kedua ini, entah kenapa jadi susah tidur. Waktu hamil Alya dulu malah kebo banget. Hamil kedua ini jarang tidur siang, dan malamnya suka terbangun dan susah tidur lagi. Perasaan juga suka kedinginan dan masuk angin, bukannya kegerahan seperti waktu Alya dulu. Alhamdulillah, tidak pernah ada masalah yang serius dengan kehamilan ini.

Masuk trimester ketiga, ternyata berat badan saya naiknya tidak begitu banyak. Kalau waktu Alya dulu, akhir trimester dua saja sudah bengkak di mana-mana. Kali ini perut saya saja yang makin membuncit.  Banyak yang meramalkan kalau bayinya cowok, melihat dari bentuk perut. Tapi ternyata hasil USGnya cewek lagi. Walaupun sedikit kecewa karena berharap benar-benar bakal dapat anak cowok, tapi gapapa, yang penting bayinya sehat dan lahirnya lancar. Alhamdulillah, setiap kali kontrol ke dokter semuanya normal dan baik-baik saja. Saya bahkan masih sempat ikut dua acara reunian di minggu-minggu terakhir, meski dengan perut buncit. Masuk bulan ke-9, hasil USG posisi bayinya sungsang, dokter menyarankan buat banyak-banyak nungging dan jalan jongkok. saya pun nurut, perbanyak sujud, jalan jongkok tiap pagi, ngepel ala inem, dan terus ajak dedenya berkomunikasi biar dia mau muter. Alhamdulillah, begitu dekat HPL, dedenya sudah di posisi siap lahir normal.

Masuk minggu ke-38, perut mulai suka mules-mules dan terasa kencang. Suka muncul kontraksi yang timbul tenggelam. Sampai seminggu, kontraksi yang sebenarnya belum muncul-muncul, padahal saya sudah mulai merasa sakit di miss V dan kesusahan untuk jalan. Akhirnya kami memutuskan untuk konsultasi ke dokter lagi. Sesampainya di dokter, disarankan untuk induksi, berhubung kontraksi belum muncul juga. Saya pun setuju. Dan hanya dalam beberapa jam, saya akhirnya merasakan kontraksi yang sebenarnya. Hanya berdua dengan suami, saya berangkat ke Rumah Sakit. Ternyata sudah pembukaan 5, kata bidannya. Kontraksi pun semakin sering terasa, dan tidak lama diikuti dengan pecah ketuban. Tidak sampai sejam sejak tiba di rumah sakit, bayi saya pun lahir. Alhamdulillah…semuanya lancar, selamat dan sehat.

*****

Begitulah kurang lebih yang saya alami selama sembilan bulan hamil Rara. Ternyata benar kata orang, setiap kehamilan itu unik. Bahkan bayi yang lahir dari satu rahim yang sama pun semuanya punya kisah yang berbeda saat dikandung. Meski secara garis besarnya, gejala yang dirasakan si Ibu sama. Tapi setiap pengalaman kehamilan selalu punya cerita tersendiri. Semoga kita bisa lebih mnghargai perjuangan Ibu kita yang telah susah payah mengandung, melahirkan dan membesarkan kita.

Empat

Baju Bodo Biru...

Masih lekat dalam ingatan, kala itu, dengan rasa gugup yang terpancar jelas dari suaramu, mengucapkan janji akad di depan penghulu, di hadapan Tuhan. Saking gugupnya, suaramu sampai tidak terdengar jelas olehku yang sedang menunggu dengan jantung berdegup kencang di kamar pengantin, padahal waktu itu kamu memegang microphone. Masih teringat juga, bagaimana dirimu, dengan malu-malu minta izin untuk menggenggam tangan ini pertama kali setelah akad nikah. Rasanya lucu saja mengenang semua itu. Ternyata pernikahan tanpa pacaran itu seindah ini. Semuanya serba yang pertama.

Tanpa terasa sudah tahun keempat….

Kita telah melewati banyak hal bersama. Berdua kita menjalani dinamika hidup, berproses menjadi dua manusia dewasa yang lebih baik setiap harinya. Melewati rintangan bernama jarak, yang memisahkan kita ribuan kilometer selama 3 tahun. Suka dan duka telah kita lewati, kehilangan calon buah hati yang dinanti selama setahun, kemudian diberi dua putri cantik sebagai ganti.

Bersamamu, ku belajar banyak hal. Tentang kesabaran, tentang kesederhanaan. Kamu lelaki paling bersahaja yang pernah ku kenal. Senyum yang teduh itu, selalu mampu meredakan amarahku setiap kali tak mampu menahan luapan emosi. Kesabaranmu mengatasi moodku yang sering berubah-ubah. Semua membuatku sadar, betapa baiknya Allah mengirimkan kekasih sepertimu ke dalam hidupku.  Hingga kadang aku merasa tidak layak untuk mendapatkan berkah sebesar itu.

Terima kasih, telah menjadi suami yang penuh pengertian dan kasih sayang. Imam yang selalu memberi teladan. Ayah yang selalu siap siaga untuk kedua buah hati kita. Terima kasih, untuk semua hal yang telah kamu berikan. Untuk jiwa yang selalu jadi tempatku pulang, dan raga yang tak pernah lelah menjaga. Bahu yang selalu ada untuk bersandar, dada untuk berlindung, tangan untuk memeluk, kaki yang setiap hari melangkah untuk mencari nafkah. Terima kasih untuk setiap pijatan lembut setiap kali ku lelah, padahal ku tahu kala itu kamu juga lelah. Terima kasih untuk semua kebaikanmu.

Maaf, jika belum mampu menjadi sosok istri sholehah idamanmu. Belum mampu memberikan pengabdian yang maksimal. Selalu merepotkanmu dengan semua permintaan dan tuntutanku. Sering membuatmu pusing dengan segala kebawelanku. Kadang menyakitimu karena egoku. Diri ini memang masih sangat jauh dari sempurna, dan memang tidak akan pernah sempurna.

Namun tetaplah di sisi, mohon tetaplah sabar untuk menuntun tangan ini meraih ridhaNya. Jangan pernah bosan mengingatkanku ketika salah dan marah. Jangan pernah lelah mengiringi langkah ini menuju ke arah yang lebih baik, meski tertatih.

Semoga Allah selalu memberkahi pernikahan kita. Menganugerahi keturunan yang sholeh dan sholehah. Memberikan kekuatan untuk selalu survive di setiap cobaan hidup yang diberikan. Hingga ajal menjelang, sampai hanya maut yang memisahkan, dan bertemu di surgaNya pada hari kemudian.

Amin

2015 part 1- Resign

Tidak terasa, sudah Desember lagi. Tahun ini akan segera berlalu tanpa sempat saya abadikan dalam tulisan. Padahal ada banyak sekali momen-momen penting dalam hidup saya yang terjadi di 2015 ini. Setelah menulis postingan terakhir kemarin, saya juga sadar kalau kualitas tulisan saya semakin buruk. Setelah begitu lama tidak menulis, rasanya otak saya jadi kaku, jari jemari sudah tidak lincah lagi menuliskan kata-kata untuk mengungkapkan apa yang ada di pikiran. Bahkan kadang saya harus berhenti lama hanya untuk memikirkan satu kata yang cocok untuk mendeskripsikan apa yang saya ingin utarakan. Karena itu, saya berniat mulai lebih sering menulis. Saya menantang diri saya untuk menulis momen-momen yang terlewatkan di hari-hari yang tersisa di tahun ini. Pokoknya sesibuk apapun harus sempat menulis, walaupun harus dicicil sedikit demi sedikit. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, kan?

Resign…

Sampai sekarang  masih ada saja yang nanya-nanya status pekerjaan saya apa, masih ada juga yang nyangka saya dimutasi ke Makassar. Memang saya belum pernah bikin konferensi pers secara resmi sih…*emang orang penting gituh?* But for those who still asking, yes…saya sudah diberhentikan secara hormat atas permintaan sendiri alias resign. Cabutnya sudah sejak September tahun lalu, meski resmi keluar SK baru Februari.

Banyak yang menyayangkan pastinya. Ada beberapa yang malah terkesan menghakimi. Terutama di tengah keluarga yang memang kebanyakan berprofesi sebagai abdi negara. Saya jadi sempat enggan keluar rumah atau bertemu orang, karena malas terus-terusan ditanyai hal yang sama. “Kok berhenti? Sayang kan sudah PNS? Jadi PNS kan susah…Memang ga bisa minta pindah? Jadi sekarang cuma tinggal di rumah?” dan bermacam komentar serupa. Capek juga kalau mesti jelasin panjang lebar ke orang-orang, mending kalo mereka ngerti.

Jadi kenapa akhirnya saya memilih untuk berhenti dari pekerjaan yang didamba-dambakan sejuta ummat di negeri ini? Sebenarnya ada banyak sekali alasan yang tidak mungkin disebutkan semua di sini. Pastinya, ini bukan keputusan sehari-dua hari. Saya sudah memikirkan dan menimbang-nimbang hal ini bahkan jauh sebelum saya melahirkan Alya. Cuma memang, tidak bisa dipungkiri, kondisi saya kemarin yang LDM sama suami, cuma berdua sama bayi di rantau dengan pengasuh yang dikit-dikit ga betah, itu jadi salah satu pemicu utama. Capek, sedikit-sedikit mesti ganti orang. Hari gini nyari baby sitter yang cocok dan bisa dipercaya lebih susah daripada nyari jodoh. Belum lagi butuh waktu buat training si pengasuh, mana anaknya jadi sering rewel karena harus beradaptasi lagi dengan pengasuh baru.  Ujung-ujungnya saya jadi keseringan kabur dari kantor. Di kantor kepikiran anak terus, di rumah malah kepikiran kerjaan yang ga kelar-kelar. Sampai hampir depresi jadinya. Akhirnya saya meneguhkan hati mengambil keputusan ini, untuk fokus mengurus anak dan rumah tangga saja.

Awalnya ditentang keras oleh kedua orang tua. Ya jelaslah, sudah susah payah disekolahkan hingga sarjana, dan sekarang anaknya yang selalu dibangga-banggakan mau jadi ibu rumah tangga? Tinggal di rumah ngurus anak dan rumah saja? Orang tua mana coba yang bisa menerima dengan mudah? Tapi alhamdulillah dengan dukungan penuh suami akhirnya kami berhasil meyakinkan dan mengantongi izin dari orangtua.

Being a Fulltime Mom…

workingmom

Selama ini, dari kacamata ibu pekerja, menjadi ibu rumah tangga itu kelihatannya enak banget. Bisa leyeh-leyeh, punya banyak waktu luang, ga banyak beban pikiran, karena tidak harus berjibaku dengan urusan pekerjaan. Ternyata tidak juga. Justru jadi ibu rumah tangga itu besar tantangannya. Jangan pernah berani memutuskan buat jadi stay-at-home mom, kalau tidak punya fisik dan mental yang kuat. Ibu rumah tangga adalah profesi dengan jam kerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Tanpa gaji, tanpa libur, dan ga ada istilah izin atau cuti.  Dengan rutinitas yang monoton dan pekerjaan yang tidak pernah ada habisnya. Kita juga dituntut untuk jadi serba bisa, jadi manager keuangan, sekaligus koki, sekaligus guru, sekaligus cleaning service, sekaligus ahli gizi, sekaligus perawat, semua profesi dalam satu orang. Tidak ada alasan untuk memandang remeh profesi Ibu Rumah Tangga.

Awalnya, kagok juga. Saya yang dulu suka keluyuran ke mana-mana, tiba-tiba sekarang harus tinggal di rumah. Saya yang bosenan dan dinamis, sekarang mesti melakoni rutinitas rumah tangga yang monoton. Saya yang sejak kuliah selalu punya penghasilan sendiri, sekarang mesti bergantung penuh sama gaji suami. Semua berubah seratus delapan puluh derajat dalam sekejap. Tapi makin ke sini, makin enjoy ngejalaninnya. Apalagi Alya sekarang sudah besar, makin cerewet, ada saja tingkah lucunya yang bisa jadi hiburan. Dan saya sangat bersyukur bisa menyaksikan langsung setiap perkembangannya, bukan hanya diceritakan dari mulut orang lain.

Hari-hari saya setahun ini sebagian besar dihabiskan untuk mengurus Alya, menemaninya bermain, dan mengerjakan  pekerjaan rumah tangga, mulai dari nyuci, nyetrika, nyapu, ngepel, masak dan urusan rumah lain yang seperti tidak pernah ada habisnya. Kalau diingat-ingat lagi, saya sendiri sering takjub dengan segala transformasi yang terjadi pada diri saya. Dari cewek yang ngurus diri sendiri saja tidak becus, sekarang jadi emak-emak rempong beranak dua, bersuami ganteng *eh*. Kalau dulunya setiap waktu luang  paling diisi dengan nonton, baca novel atau dengar musik, sekarang saya punya hobi baru, masak! Hihihi, sangat emak-emak banget. Jangan heran kalo ke depannya blog ini juga bakal penuh dengan resep masakan, Saya juga banyak belajar hal-hal baru. Niatnya sih mau nambah-nambah pengetahuan dan keterampilan. Biar cuma stay di rumah, bukan berarti kita jadi ga produktif dan berhenti belajar kan? Justru menjadi ibu, kita dituntut untuk selalu belajar dan belajar, menambah wawasan dan skill kita, karena ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Alhamdulillah, sejauh ini saya tidak pernah merasa menyesal dan insya Allah tidak akan pernah. Kalaupun ada yang saya sesali, itu adalah 3 tahun yang saya habiskan jauh dari suami dan 3 bulan menitipkan Alya untuk diasuh oleh orang yang kurang kompeten. Meski ke depannya saya tidak menutup kemungkinan  untuk kembali bekerja lagi. Entah  itu part-time, kerja dari rumah, atau merintis usaha sendiri. Yang jelasnya sekarang saya masih ingin  menikmati dan menghabiskan waktu di rumah  untuk fokus mendidik dan membesarkan anak-anak, menyertai mereka di masa golden age yang hanya sebentar ini. Karena masa kecil mereka hanya sekali dan tidak bisa terulang lagi, bahkan segunung emas pun tidak  akan bisa membeli waktu yang telah berlalu.